Hati Yang Terbelenggu

Saat rindu menyesak di dada
Terbungkus derita menyayat hati
Aku seperti kehabisan nafas
Habis oksigen karena merindukanmu
-----------------------------------------------
Aku takut terbiasa dengan rasa ini
Membuat hati jadi kebal rasa
Aku takut terbiasa dengan rindu ini
Membuat hati jadi mati rasa
-----------------------------------------------
Segenap hati aku menjaga
Agar pelita cinta tetap menyala
Tak kubiarkan redup walau sesaat
Semua kulakukan hanya untukmu
-----------------------------------------------
Adakah cinta tanpa mata?
Walau sesaat ingin bertemu
Bebaskan hati dari belenggu
Belenggu rindu karna dirimu

Kata-Kata Bijak Islami

“Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah amal yang terus menerus meskipun hanya sedikit” (Muhammad SAW)

“Orang yang beramal tanpa didasari oleh ilmu, maka amalnya akan sia-sia belaka karena tidak diterima oleh Allah SWT” (Ibnu Ruslan)

“Pangkal dari semua kebaikan di dunia maupun di akhirat adalah taqwa kepada Allah” (Abu Sulaeman Addarani)

“Sifat rendah hati yaitu taat dalam mengerjakan kebenaran dan menerima kebenaran itu yang datangnya dari siapapun” (Fudlail bin Iyadl)

“Pikiran merupakan sumber dari ilmu, sedangkan ilmu itu sendiri merupakan sumber amal” (Wahb)

“Hendaklah kamu tetap berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu” (Lukman Hakim)

“Orang yang bijak tidak akan terpeleset oleh harta, meskipun terpeleset ia akan mendapatkan pegangan” (Abdullah bin Abbas)

“Memerintah atau mengawasi diri sendiri akan jauh lebih sulit dan lebih baik daripada memerintah dan mengawasi suatu negeri” (Ibrahim bin Adham)

“Kerjakan apa saja yang telah menjadi hak dan kewajibanmu, karena kebahagiaan hidupmu terletak disitu” (Musthafa Al-Gholayani)

“Yang disebut dengan teguh hati adalah memegang dengan sungguh-sungguh apa yang dibutuhkan olehmu dan membuang yang selain itu” (Aktssam bin Shaifi)

“Setiap manusia memiliki orang yang dicintai dan dibenci, Tapi untukmu, jika ada berkumpulah dengan orang-orang yang bertakwa” (Imam Syafii)

“Pengkhianatan yang paling besar adalah pengkhianatan umat. Sedangkan pengkhianatan yang paling keji adalah pengkhianatan pemimpin” (Ali bin Abi Thalib)

“Setiap manusia hendaknya memperhatikan waktu juga sekaligus mengutamakannya” (Umar bin Utsman Al-Maliky)

“Biasakan hatimu untuk bertafakur dan biasakan matamu untuk sering menangis” (Abu Sulaiman Ad-Darani)

“Orang yang sehari-harinya hanya sibuk untuk mencari uang demi kesejahteraan keluarganya, maka mustahil ia mendapatkan ilmu pengetahuan” (Imam Syafii)

“Barang siapa tidak menghargai nikmat, maka nikmat itu akan diambil dalam keadaan ia tidak mengetahuinya” (Siriy Assaqathi)

“Bekerjalan untuk keperluan makanmu. Sedangkan yang paling baik bagimu adalah bangun di tengah malam dan berpuasa di siang hari” (Ibrahim bin Adham)

“Sedikit makan, sedikit tidur dan sedikit kesenangan merupakan ciri-ciri orang yang dicintai oleh Allah” (Abu Bakar bin Abdullah Al-Muzani)

“Jangan berteman yang hanya mau menemanimu disaat kamu sehat dan kaya, karena teman seperti itu sungguh sangat berbahaya sekali untukmu dibelakang hari” (Imam Ghozali)

Aku Mencintaimu Karena Allah

Ajari aku cinta untuk bersabar..
Untuk menemukan Imam yang benar..
Untuk menjaga segala kemuslimahanmu..
Mengangkat derajat keimananku..
Serta membawaku dalam Indahnya agama Allah..

Ajari aku cinta untuk bertahan..
Pada kebaikan..
Pada keistiqomahan..
Pada Indahnya sendiri tanpa sentuhan haram..
Pada keindahan Cinta yang selalu terpendam..

Ajari aku cinta..
Seperti Para makhluk tuhan yang selalu berdzikir..
Seperti Hamba-hamba Tuhan yang selalu berfikir..
Di jauhkan dari manusia-manisa kafir..
Dan selalu ada dalam kerendahan hati tanpa kikir..

Ajari aku Cinta..
Aku ingin memilikimu karena TuhanMu, Allah..
Aku ingin menjadi pendampingmu karena Ajaran TuhanMu, Allah..
Aku ingin mencintai dan melengkapai kehidupanku juga hanya ada di jalan TuhanMu, Allah..
Demi Cintaku padamu, Karena Allah..
Hanya Karena TuhanMu, Allah..
Jadilah Imamku yang sempurna..
Yang selalu mencari cinta di jalan TuhanMu, Allah..
Untukmu Yang akan menjadi Imamku..

Puisi Cinta Layla dan Majnun

Berlalu Masa

Berlalu masa, saat orang-orang meminta pertolongan padaku
Dan sekarang, adakah seorang penolong yang akan
mengabarkan rahasia jiwaku pada Layla?
Wahai Layla, Cinta telah membuatku lemah tak berdaya
Seperti anak hilang, jauh dari keluarga dan tidak
memiliki harta
Cinta laksana air yang menetes menimpa bebatuan
Waktu terus berlalu dan bebatuan itu akan hancur,
berserak bagai pecahan kaca
Begitulah cinta yang engkau bawa padaku
Dan kini hatiku telah hancur binasa
Hingga orang-orang memanggilku si dungu yang suka
merintih dan menangis
Mereka mengatakan aku telah tersesat
Duhai, mana mungkin cinta akan menyesatkan
Jiwa mereka sebenarnya kering, laksana dedaunan
diterpa panas mentari
Bagiku cinta adalah keindahan yang membuatku tak
bisa memejamkan mata
Remaja manakah yang dapat selamat dari api cinta?

(Bab II, hlm. 10, situasi ketika nyala api asmara dalam hati Qays mulai berkobar dan kebiasaannya kini hanya melamun dan merangkai syair)

Layla Telah Dikurung

Layla telah dikurung dan orangtuanya mengancamku
Dengan niat jahat lagi kejam, aku tidak bisa bertemu lagi
Ayahku dan ayahnya sesak dada dan sakit hati padaku
Bukan karena apapun juga, hanya karena aku mencintai Layla
Mereka menganggap cinta adalah dosa
Cinta bagi mereka adalah noda yang harus dibasuh
hingga bersih
Padahal kalbuku telah menjadi tawanannya
Dan ia juga merindukanku
Cinta masuk ke dalam sanubari tanpa kami undang
Ia bagai ilham dari langit yang menerobos dan
bersemayam dalam jiwa kami
Dan kini kami akan mati karena cinta asmara yang telah
melilit seluruh jiwa
Katakanlah padaku, pemuda mana yang bisa bebas dari
penyakit cinta?

(Bab II, hlm. 15, situasi ketika cinta yang bersemayam di hati mendapat rintangan)

Wahai Layla Kekasihku

Wahai Layla kekasihku
Berjanjilah pada keagungan cinta agar sayap jiwamu dapat terbang bebas
Melayanglah bersama cinta laksana anak panah menuju sasaran
Cinta tidak pernah membelenggu
Karena cinta adalah pembebas, yang akan melepaskan
buhul-buhul keberadaan
Cinta adalah pembebas dari segala belenggu
Walau dalam cinta, setiap cawan adalah kesedihan
Namun jiwa pecinta akan memberi kehidupan baru
Banyak racun yang harus kita teguk untuk menambah
kenikmatan cinta
Atas nama cinta, racun yang pahit pun terasa manis
Bertahanlah kekasihku, dunia diciptakan untuk kaum pecinta
Dunia ada karena ada cinta

(Bab II, hlm. 16-17, situasi ketika Qays dalam kerinduan memuncak mengendap-endap ke rumah Layla, seraya menciumi rumah mawar itu dengan derai airmata membasahi pipi. Ia melantunkan syair ini, tak peduli apakah Layla mendengar atau syairnya tertelan dinding rumah)

Wahai Angin Sampaikan Salamku pada Layla

Wahai angin sampaikan salamku pada Layla!
Tanyakan padanya apakah dia masih mau berjumpa denganku?
Apakah ia masih memikirkan diriku?
Bukankah telah kukorbankan kebahagiaanku demi dirinya?
Hingga diri ini terlunta-lunta, sengsara di padang pasir gersang
Wahai kesegaran pagi yang murni dan indah!
Maukah engkau menyampaikan salam rindu pada kekasihku?
Belailah rambutnya yang hitam berkilau
Untuk mengungkapkan dahaga cinta yang memenuhi hatiku
Wahai angin, maukah engkau membawakan keharuman
rambutnya padaku
Sebagai pelepas rindu
Sampaikan pada gadis yang memikat hati itu
Betapa pedih rasa hatiku jika tidak bertemu dengannya
Hingga tak kuat lagi aku menanggung beban kehidupan
Aku merangkak melintasi padang pasir
Tubuh berbalut debu dan darah menetes
Airmataku pun telah kering
Karena selalu meratap dan merindukannya
Duhai semilir angin pagi, bisikkan dengan lembut salamku
Sampaikan padanya pesanku ini:
Duhai Layla, bibirmu yang selaksa merah delima
Mengandung madu dan memancarkan keharuman surga
Membahagiakan hati yang memandang
Biarkan semua itu menjadi milikku!
Hatiku telah dikuasai oleh pesona jiwamu
Kecantikanmu telah menusuk hatiku laksana anak panah
Hingga sayap yang sudah patah ini tidak mungkin dapat terbang
Berbagai bunga warna-warni menjadi layu dan mati
Karena cemburu pada kecantikan parasmu yang bersinar
Engkau laksana dewi dalam gelimang cahaya
Surgapun akan tertarik untuk mencuri segala keindahan
yang engkau miliki
Karena engkau terlalu indah dan terlalu berharga untuk
tinggal di bumi!

Duhai Layla, dirimu selalu dalam pandangan
Siang selalu kupikirkan dan malam selalu menghiasi mimpi
Hanya untukmu seorang jiwaku rela menahan kesedihan
dan kehancuran
Jeritanku menembus cakrawala
Memanggil namamu sebagai pengobat jiwa, penawar kalbu
Tahukah engkau, tahi lalat di dagumu itu seperti sihir
yang tidak bisa aku hindari
Ia menjadi sumber kebahagiaan yang telah memikatku
untuk selalu mengenangmu
Membuat insan yang lemah ini tidak lagi mempunyai jiwa
Karena jiwaku telah tergadaikan oleh pesonamu yang memabukkan
Jiwaku telah terbeli oleh gairah dan kebahagiaan cinta
yang engkau berikan
Dan demi rasa cintaku yang mendalam
Aku rela berada di puncak gunung salju yang dingin seorang diri
Berteman lapar, menahan dahaga
Wahai kekasihku, hidupku yang tidak berharga ini suatu saat akan lenyap
Tapi biarkan pesonamu tetap abadi selamanya di hatiku

(Bab III, hlm. 21-23, situasi ketika Qays mulai sering meninggalkan rumah, hidup sendirian di padang pasir gersang atau hutan belantara yang berbahaya. Ia tidak lagi merawat tubuh, membiarkan rambut memanjang dan ke sana-kemari bertelanjang dada. Saat berjalan di kampung-kampung, orang-orang akan memanggilnya dengan Majnun, si gila. Dan anak-anak kecil akan mengikuti langkahnya dari belakang sambil melempari batu. Meski demikian dari mulutnya yang kering tetap keluar syair-syair yang indah)

Duhai, Betapa Besar Bahaya yang Menghadang

Duhai, betapa besar bahaya yang menghadang agar
dapat berjumpa denganmu
Kukorbankan semua yang aku miliki
Kuubah diriku, hingga engkau pun tidak mengenaliku
Kuayunkan langkah dengan tetes air mata
Dan setelah memasuki perkampunganmu
Kubuang semua tanda-tanda yang dapat membuat orang
mengenaliku
Kuikat diriku dengan rantai, bagai budak belian
Berjalan sambil menadahkan tangan, meminta sedekah
Dan bocah-bocah itu tidak suka melihatku
Mereka berkumpul mengelilingiku
Menghardik dan melemparku, seperti anjing berbahaya
Kini aku datang di dekatmu
Duhai Layla, tak mampu kutahan air mata yang menetes
Kasihanilah kelemahanku
Karena begitu berat penderitaanku

(Bab IV, hlm. 26, situasi ketika  Majnun meminjam rantai di leher pada seorang nenek, agar dapat meminta sedekah dari rumah ke rumah. Dengan begitu ia dapat leluasa masuk ke kampung Layla tanpa dikenali. Jiwanya tergetar hebat saat ia menyelinap masuk ke taman di samping rumah Layla. Dibacakanlah syair di atas dan mendengar itu Layla keluar rumah. Hampir tak dikenalinya lelaki itu. Tapi saat memperhatikan air mata yang menetes, sadarlah Layla, bahwa lelaki yang berdiri di depannya adalah Qays. Disebutkan bahwa Layla tidak seperti gadis, melainkan bidadari yang lembut dan halus, sedang Qays merasa dirinya seperti batang kayu yang habis terbakar)

Kerabat dan Handai-Taulan Mencelaku

Kerabat dan handai-taulan mencelaku
Karena aku telah dimabukkan oleh kecantikan Layla
Ayah, putera-putera paman dan bibi
Mencela dan menghardik diriku
Mereka tidak mampu membedakan cinta dengan hawa nafsu
Nafsu mengatakan pada mereka, keluarga kami berseteru
Mereka tidak tahu, dalam cinta tidak ada seteru atau sahabat
Cinta hanya mengenal kasih sayang

Kubertanya dalam kalbu, ada apakah gerangan?
Keluarga Layla tak akan menjual anak gadisnya
Berapapun harga yang ditawarkan
Dan keluargaku tak hendak membeli
Semoga Allah menakdirkan kebaikan bagi kami
Dengan kerinduan mendalam yang selalu aku simpan
Semoga kelak kami dipertemukan

Tidakkah mereka mengetahui?
Kini jiwaku telah terbagi
Satu belahan adalah diriku
Sedang yang lain telah kuisi untuknya
Tiada bersisa selain untuk kami

Wahai burung-burung merpati yang terbang di angkasa
Wahai negeri Irak yang damai
Tolonglah aku
Sembuhkanlah rasa gundah-gulana  yang membuat kalbuku tersiksa
Dengarkanlah tangisanku, suara batinku
Duhai, mereka menyampaikan kabar buruk
Layla sakit karena guna-guna
Mereka tidak tahu, sesungguhnya akulah tabib yang ia perlukan
Akulah yang mampu mengobati penyakitnya

Waktu terus berlalu, usia semakin menua
Namun jiwaku yang telah terbakar rindu
Belum sembuh jua
Bahkan semakin parah
Bila kami ditakdirkan berjumpa
Akan kugandeng lengannya
Berjalan bertelanjang kaki menuju kesunyian
Sambil memanjatkan doa-doa pujian pada Allah
Ya Raab, telah Kaujadikan Layla
Angan-angan dan harapanku
Hiburlah diriku dengan cahaya matanya
Seperti Kau hiasi dia untukku
Atau, buatlah dia membenciku
Dan keluarganya dengki padaku
Sedang aku akan tetap mencintainya
Meski banyak nian aral melintang
Mereka mencela dan menghina diriku
Dan mengatakan aku hilang ingatan
Sedang Layla sering berdiam diri mengawasi bintang
Menanti kedatanganku
Aduhai, betapa mengherankan
Orang-orang mencela cinta
Dan menganggapnya sebagai penyakit
Yang meluluh-lantakkan dinding ketabahan
Aku berseru pada Singgasana Langit
Berilah kami kebahagiaan dalam cinta
Singkaplah tirai derita
Yang selalu membelenggu kalbu
Bagaimana mungkin aku tidak gila
Bila melihat gadis bermata indah
Yang wajahnya bak mentari pagi bersinar cerah
Menggapai balik bukit, memecah kegelapan malam
Keluargaku berkata
Mengapakah hatimu wahai Majnun?
Mengapa engkau mencintai gadis
Sedang engkau tidak melihat harapan untuk bersanding
dengannya?
Cinta, kasih dan sayang telah menyatu
Mengalir bersama aliran darah di tubuhku
Cinta bukanlah harapan atau ratapan
Walau tiada harapan, aku akan tetap mencintai Layla
Sungguh beruntung orang yang memiliki kekasih
Yang menjadi karib dalam suka maupun duka
Karena Allah akan menghilangkan
Dari kalbu rasa sedih, bingung dan cemas
Aku tak mampu melepas diri
Dari jeratan tali kasih asmara
Karena Surga menciptakan cinta untukku
Dan aku tidak mampu menolaknya
Sampaikan salamku kepada Layla, wahai angin malam
Katakan, aku akan tetap menunggu
Hingga ajal datang menjelang

(Bab IV, hlm. 37-39, situasi ketika Syed Omri (ayah Qays) dari kabilah Bani Amir yang disegani mulai melunak karena melihat penderitaan anaknya. Ia lalu bersedia melamarkan Layla dari Bani Qhatibiah di lembah Nejd. Tapi jawaban ayah Layla membuatnya merasa ditampar dan dilempari kotoran di wajah: Demi Allah, saya tidak menginginkan orang-orang Arab berbicara, saya mengawinkan puteriku dengan pemuda gila. Sejak itu Syed Omri dan para kerabat berusaha merayu dan membujuk Majnun untuk melupakan gadis pujaannya. Majnun dengan amarah meluap mengangkat tangan, merobek-robek pakaian dan mencampakkannya ke tanah. Ia pergi ke padang belantara. Di sana ia menangis tersedu-sedu, airmatanya bercucuran, seluruh jiwanya seolah terbakar. Terbakar karena api cinta, terbakar oleh ketidakberdayaan. Mulutnya tak henti menyebut nama sang kekasih, seperti mantra yang dapat mengurangi rasa sakit.)

Hatiku Telah Terikat oleh Mantra Keindahan

Hatiku telah terikat oleh mantra keindahan, dan cinta
tak dapat dihancurkan.
Ijinkan jiwaku berpisah dengan diriku dan menyatu
dengan jiwanya yang telah menjadi nafasku.
Duhai ayahanda, mengapa engkau berharap aku menghilangkan
cinta tulus yang ada di lubuk hati?
Meskipun aku terbakar seperti lilin, aku tidak akan kecewa
Biarkan aku menuruti panggilan jiwa meskipun cinta telah
membelenggu dan memberi pakaian duri padaku!

Wahai, Ayah, cinta adalah rahmat dari Surga dan menjadi berkah bagi jiwa.
Karena Langit yang menuntunku, maka cintaku pada Layla tulus dan suci
Cinta yang melahirkan angan-angan serta nafsu, adalah cinta
yang bersumber dari bumi.
Cinta seperti itu akan mudah berubah jika apa yang diangan-angankan
tidak sesuai dengan kenyataan.
Cintaku pada Layla tidak bersumber dari bumi, ia menyala
dengan kebenaran Surga dan akan abadi selamanya.
Surgalah yang menuntunku terbang bersama sayap-sayap cinta
Bagaimana mungkin aku akan melepaskan diri, sedang Surga
telah menunjuk dan mengilhamkan cinta padaku

Seseorang Memanggil-manggil Namamu

Seseorang memanggil-manggil namamu saat kami berada
di lereng bukit Mina
Mendengar namamu terguncanglah hatiku karena sedih
Duhai lelaki itu tidak mengetahui betapa suci namamu
Mengapakah ia memanggil nama Layla dengan seenaknya?
Apakah ia tidak tahu dengan menyebut namamu
Berarti ia menerbangkan seekor burung yang telah bersarang di hatiku
Ia memanggil nama Layla
Semoga Allah membukakan kedua matanya
Untuk melihat betapa pesonamu tak mampu dia bayangkan

(Bab IV, hlm. 46-47, dua situasi di atas adalah ketika Syed Omri (ayah Qays) membawa Majnun untuk berziarah ke Makkah, berdoa di Ka’bah atas nasihat tetua kabilah dan para cerdik-cendekia. Si Ayah berkata pada Qays, “Wahai Qays, memohonlah pada kekuasaan Allah, katakanlah Ya Allah lepaskan aku dari Layla dan cintanya.” Tapi doa yang dipanjatkan Qays di dinding Ka’bah membuat hati Syed Omri seperti disayat duri. Ia merasa sia-sia semua ikhtiar yang dilakukan. Jiwa dan cinta anaknya pada Layla tidak bergeming. Dan ini adalah bagian dari ucapan Majnun pada sang ayah saat berada di Mina, juga bait syair sesaat setelah tak sadarkan diri ketika satu peristiwa ada yang berteriak dari kemah “Wahai Layla” dengan seenaknya.)

Aku Menuruni Lembah Wadiyain yang Indah

Aku menuruni lembah Wadiyain yang indah
Sebagai seorang tamu dari penghuninya
Aku akan tetap berada di lembah Wadiyain
Menghirup udaranya yang segar dan airnya yang jernih
Aku tidak akan kembali
Kecuali jika di atas ada yang menanti
Di sini aku tidak seorang diri
Binatang-binatang liar dan buas menjadi sahabatku
Aku tidak akan ragu
Mengapa aku harus ragu
Bila kasih Layla hanya tertuju padaku
Sahabat karib dan kekasihnya
Mengapa aku harus ragu
Jika jiwaku senantiasa mengharapkan Layla
Sungguh, angin telah datang
Membawa pesan Layla
Ia berjanji, meski tidak pernah bersua di dunia
Akan tetap menungguku di pintu surga
Sungguh dunia yang indah akan bermuram durja
Bila engkau tidak pernah berkunjung ke rumah seorang kekasih
Dan tiada seorangpun
Yang dapat menghibur hatimu

(Bab V, hlm. 49-50, situasi ketika Majnun kembali mengembara sepulang berhaji. Ia sampai ke lembah Wadiyain (dua lembah) dan tinggal di sebuah gua. Diceritakan bahwa binatang buas menjadi jinak demi melihat pancaran cahaya cinta di wajah Majnun. Bahkan singa dan serigala menjadi pengiring setia bagi Majnun dan saat tidur mereka menunggu dan menjaga tuannya).

Carilah Layla yang Lain

Banyak orang berkata
Bersenanglah engkau dengan gadis lain
Itu adalah kata pelipur-lara
Namun menjadi duri dalam hatiku
Kukatakan kepada mereka
Dengan air mata berderai
Dan hatiku hancur luluh
Sayap cinta telah memeluk
Dan membawa jiwaku terbang
Aku mencintai Layla
Dan tidak tertarik pada gadis lain
Pandanganku telah tertunduk, dan mata terpejam
Kepada selain Layla
Wahai Layla ulurkanlah tanganmu
Untuk menyambut kasihku
Kalbu penuh asmara
Kuberikan padamu
Mungkin engkau diberi dua cawan minuman
Satu cawan kebencian
Agar engkau melupakan diriku
Sedang cawan yang satu berisi anggur kesenangan
Agar engkau rela menerima pinangan orang lain sebagai gantiku
Duh kekasihku
Kuingatkan dirimu
Jangan rusakkan hubungan
Yang orang lain selalu ingin menyempurnakan
Kelak engkau akan melihat
Beda antara cinta dan vafsu
Wahai Layla, nafsu akan melemahkan hati
Ia akan terus menggoda dan merayu
Namun kelak akan menyesal
Sedih tak berkesudahan
Jiwa yang dipenuhi kebencian
Tak akan pernah menjadi mulia
Ia tak akan puas
Bila yang diharapkan tak didapat
Sedang diriku Layla, Demi Allah
Tali kasih yang telah bersemi
Akan kusiram dan kupupuk
Agar cinta yang engkau berikan tetap terjaga selamanya
Dan aku haramkan atas diriku
Segala yang tidak engkau sukai
Jangan kau biarkan jiwaku hancur karena murkamu
Karena tak sanggup kuterima amarahmu
Sedang gunung pun akan hancur jika engkau marah
Buanglah keraguan dalam dirimu
Karena cinta tidak bisa bersanding dengan keraguan
Aku akan selalu menjaga tali cinta kita
Walau engkau tak di sisiku
Namun aku yakin
Cintamu selalu hadir di hatiku

(Bab V, hlm. 58-59, situasi ketika Majnun rindu kembali menemui ayahnya setelah lama mengembara. Dan ayahnya kembali membujuk agar Majnun mencintai gadis lain yang lebih terhormat. Pecinta hanya hidup dengan cinta, mereka makan dengan roti kasih, minum madu kepedihan dari cawan rindu. Lidahnya dipenuhi oleh kata-kata indah, matanya memandang kelembutan dan pikirannya terbuai desir khayalan dan angan-angan yang indah).

Syair Pujian untuk Layla

I

Bila bulan purnama tenggelam
Atau matahari terlambat terbit
Maka cahaya wajah Layla akan menggantikan sinarnya
Senyumnya bukan hanya berhenti di mulut
Namun menjadi cahaya dari mentari dan sinar purnama seluruhnya
Rembulan dan matahari akan tersipu malu
Karena cahayanya tak sebanding dengan sinar mata Layla
Bila ia berkedip, maka bintang kejora akan menyembunyikan diri
Tidak akan lagi tercipta gadis seperti dia
Dan aku ciptakan hanya untuk dia

Kata-kata pujian yang kuucapkan
Bagai sebutir pasir di gurun sahara
Tak sebanding dengan kecantikannya
Karena segala kata pujian yang dimiliki jin dan manusia
Tak sebanding dengan pesonanya
Dia diberi nikmat, dengan segala kebaikan
Bila ia hendak berjalan ke sebuah bukit
Maka seakan bukit itulah yang akan mendekat padanya
Karena sang bukit tidak ingin melihat gadis itu dihinggapi kelelahan

II

Adakah malam bisa menyatukan diriku dengan Layla?
Atau biarkan angin malam menyebut namanya
Sebagai ganti pesona tubuhnya
Karena sama saja bagiku
Melihat Layla atau menatap purnama

(Bab VI, hlm. 69-70, inilah syair yang dibacakan oleh Ishaq kepada Layla. Syair ini didengar langsung dari mulut Qays ketika dalam perjalanannya ia bertemu di padang pasir bersama binatang buas. Dituturkan bahwa Qays tampak letih dan menderita, namun saat disebut nama Layla, jiwanya kembali bersemangat. dikatakan oleh Ishaq bahwa saat membacakan syair ini, Qays seperti sedang dilanda sakit parah, tubuhnya seolah tidak lagi memiliki tulang sendi, matanya menyiratkan ketakutan dan kekhawatiran).

Bila Kakiku Terperosok, Aku Menyebut Namanya
(Syair gubahan  Layla untuk Qays)

Bila kakiku terperosok, aku menyebut namanya
Aku bermimpi dalam tidurku hidup bersama dia
Apabila disebut nama Qays
Hilanglah kekuatan jiwaku
Hatiku seperti sirna ditelan namanya
Demi Allah, hampir saja aku gila karena memikirkannya
Dadaku sesak karena rindu
Kaumku mengancam
Jika Qays tidak berhenti menyebut namaku
Maka darahnya akan tumpah membasahi bumi
Bunuhlah aku dan biarkan Qays
Setelah nyawaku melayang, janganlah kalian hina ia
Cukup apa yang ia derita karena cinta
Mungkin ia akan menuduhku tidak setia dengan janji
Dan aku tidak mampu mencegahnya
Kucampur tinta dengan airmataku
Untuk menulis surat padanya
Inilah saat perpisahan bagi orang
Yang akan kukurbankan jiwaku untuknya
Aku khawatir jika ajalku tiba
Tak dapat memandang wajahnya

(Bab VI, hlm. 71-72, inilah syair dari Layla setelah Ishaq menyakini cinta Layla kepada Qays: “Adakah anda bisa membacakan syair untuknya?” Ishaq, lelaki itu, kemudian berjanji akan menyampaikannya kepada Qays).

Jiwa Orang yang Dimabuk Cinta

Jiwa orang yang dimabuk cinta
Akan merasa sakit karena rindu
Sebab pecinta ingin selalu bersama
Tapi halangan tiada ada henti-henti
Pecinta seperti dua ekor kijang di bukit tandus
Walau tiada makanan, tetapi mereka tetap bersama
Atau seperti burung merpati
Walau terbang bebas di angkasa luas
Tetap saja kembali pada kekasihnya
Atau laksana ikan tuna
Tetap tabah walau dipermainkan ombak
Timbul-tenggelam di laut
Walau selalu dicaci dan dicela
Batin menjerit tubuh binasa
Meski lapar dan disia-siakan
Namun jiwa pecinta akan selalu memaafkan
Sebab pecinta tidak membutuhkan pujian
Dan pengorbanan pecinta tidak akan sia-sia
Kulihat bintang kutub dan bintang kejora
Demikian pula cinta
Sekecil apapun, cinta tetap berkuasa di singgasana hati
Dan bagi pecinta
Kebahagiaan dan kesedihan sama indahnya
Karena cinta sejati tidak mengenal kesia-siaan
Jiwaku dan jiwa Layla akan tetap bersama
Andaipun tidak di dunia
Pasti jiwa kami  akan bersatu di liang lahat
Dan kelak akan dibangkitkan bersama
Hingga dapat bersatu selama-lamanya
Mataku berkurban utnuk Layla dengan segenap curahan airmata
Berharap liang lahatmu adalah liang lahatku
Agar jenazah kita bersatu

(Bab X, hlm. 104-105, syair lain Qays untuk Layla saat di gua kotor di lembah Wadiyain).

Madah dari Surga

Apakah yang sedang mengalir dalam jiwaku ini?
Siapakah yang sedang memandangku?
Apakah ia kecantikan bunga mawar?
Wahai bunga mawar itu telah dicabut dari taman hatiku
Untuk menjadi penghias taman yang lain
Namun tidak mungkin menjadi layu
Wahai Layla, aku telah dimabukkan oleh rasa cinta
Mana mungkin aku menolak kenikmatan ini
Duduklah di rumpun palem itu, Layla
Agar dapat kunikmati manisnya anggur cintamu
Wahai, ke manakah engkau saat aku merana, terusir dan
kehilangan dirimu?
Hidup hanya menjalar sesaat di uratku dan kemudian
bukan milikku lagi
Tetapi menjadi milikmu
Sejak harapan tidak tersenyum lagi padaku
Aku hanya bisa meratap
Mengenang dan menyesali masa lalu
Aku berteman derita dan hinaan
Kedukaan tersenyum padaku dan aku tersenyum padanya
Sedang kedukaan membuat engkau ketakutan
Padahal engkau yang telah menciptakannya
Diriku selalu diliputi kesengsaraan
Sementara engkau mereguk kebahagiaan
Saat pikiranku hanyut dalam pesona wajahmu yang memabukkan
Engkau pergi tanpa mengucapkan salam
Wahai Surga! Biarkan kematian menjauhkan kami!
Kami adalah dua tubuh namun satu hati
Seperti awan musim panas dengan hujan di padang rumput
Biarkan aku hanyut dalam kesedihan
Asal jangan biarkan cinta Layla hilang dari jiwaku
Wahai Layla
Mungkin sebentar lagi kematian akan menjemput
Dunia akan menulis riwayatku
Mereka akan mengatakan telah kukorbankan diri demi
rembulan indah
dengan cahaya keperakan
Ia yang telah mengubah malam menjadi mempesona
Ingatkah engkau wahai Layla, saat kita bermain
bersama, mereguk anggur kebahagiaan?
Engkau dengan mata hitam yang indah, memandang
penuh cinta padaku
Dan bibir itu! Akh, aku melihat anggur cinta di sana
Aku melihat betapa bahagia kita berdua!
Tiada seorang pun yang mampu memisahkan kita
Rasa malu dan ketakutan tidak mampu menghancurkan
bunga cinta kita
Kebahagiaan tak terlihat, di kuil pengasingan itu
Tapi bawakan aku anggur!
Biarkan aku mabuk!
Jauhkan kesedihan dari diriku!
Rumah tanpa penerangan adalah penjara
Karena penjara benci dengan cahaya.
Tempat yang cocok untuk hati yang patah
Dan tenggelam dalam kesuraman seperti diriku
Adalah kamar bawah tanah yang jauh dari cahaya

Ya Allah!
Selamatkan aku dari kegelapan yang tiada akhir ini!
Berikan aku satu hari saja kesenangan – satu peristiwa menyenangkan!

(Bab XVII, hlm. 154-156, ini kalimat sebelum syair ini ditulis: Menyaksikan pancaran kasih dari mata Layla, seketika mengalir dari bibir Majnun syair-syair indah, seolah madah dari surga. Maka saya kasih judullah syair ini dengan judul Madah dari Surga).

Kesengsaraan itu Milikku

Kesengsaraan itu milikku
Kesedihan telah menyatu dalam jiwaku
Kenangan tentang bibir yang begitu manis
Telah membelenggu lidahku untuk mengungkapkan pesonanya
Saat sayap cintaku terluka dan tidak dapat terbang
Burung indah mempesona yang telah lama aku cari
datang di hadapanku
Sesungguhnya, engkau merangkai pesona bidadari
Dan apalah artinya diriku?
Aku tidak mengetahui apapun  selain bayanganmu.
Tanpa engkau aku tiada
Khayalan telah menyatukan kita berdua
Kita melebur menjadi satu
Menyatu dalam ketetapan cinta
Kita adalah dua tubuh dengan hati yang satu dan jiwa yang sama
Dua lilin dengan satu nyala api murni, semurni surga
Dari bentuk-bentuk yang sama
Digabung menjadi satu
Dua titik menjadi satu
Tiap jiwa mendukung satu sama lain 

(Bab XIX, hlm. 167, syair terakhir, situasi pertemuan terakhir antara Qays dengan Layla. Layla telah bebas dari perkawinan Ibnu Salam. Sebuah perkawinan yang menimbulkan kemarahan terpendam di pihak laki-laki karena Layla tetap dalam kesuciannya. Ibnu Salam meninggal. Dikatakan bahwa getaran kemarahan telah merenggut kehidupannya. Namun ternyata, dalam keadaan di mana tidak ada lagi yang menghalangi cinta mereka, Qays malah pergi. Batin Qays dikatakan tidak siap menerima kebahagiaan yang demikian besar. Sesaat setelah menatap Layla dengan senyum yang mengerikan, ia merobek baju yang dikenakan dan dengan kekuatan yang melebihi kekuatan biasa, Majnun berlari ke gurun luas. Meski begitu, cinta Layla pada pemuda itu tidak pernah sirna. Namun ia merasa cahaya kehidupannya mulai surut dan kesedihannya menjadi-jadi. Ia pun meninggal dengan membawa mati cintanya. Adapun Majnun, seketika tahu meninggalnya sang kekasih, meratap di kuburan Layla hingga tubuhnya lemah. Ia pun meninggal dengan ditunggui oleh binatang-binatang liar temannya. Diceritakan bahwa binatang-binatang itu baru menyadari kematian tuannya setelah tubuh Majnun hanya menyisakan tulang berserakan. Berita kematian Majnun dibawa oleh pengelana yang kebetulan lewat. Dan orang-orang pun menguburkannya di samping makam Layla).

Puisi Cinta Islami

DO'A CINTA
    Ya Allah Ya rabbul ‘izzati
    Telah engaku labuhkan mahligai cintai di hatiku
    Maka jadikan cinta ini sebagai penawar gersang kehidupanku
    Telah Engkau tanam benih cinta di kalbuku
    Maka jadikan bunga – bunga cinta sebagai penghias kisahku
    Ya Allah ya Rahmanu Ya rahim
    Ku titipkan cinta ini
    Hiasilah dengan keimanan
    Perindahlah dengan ketakwaan
    Kuatkanlah dengan kepasrahan
    Dan wujudkanlah dengan ikatan yang Engkau Ridhai
    Ya Allah Ya muhaiminu ya Salam
    Jika cinta ini mengantarku pada derajat kekasihMu
    Maka jaga cinta ini agar tetap pada Ridhamu
    Jika cinta ini menjadi mahar cintaku padaMu
    Maka mulikanlah cinta kami dengan kesetiaan
    Ya Allah Ya mujibu da’awat
    Kabulkanlah impian cinta kami
    Persatukan kami dalam indahnya pernikahan
    Agar kami setia hingga sampai ke syurga
Mahabbah Cinta
    Ya Robbi,
    Kau fitrahkan pada kami akan sebuah rasa
    Cinta dan sayang yang merengkuh kami berdua
    Tak dapat ku tepiskan semua
    Tak dapat pula kumunafikan adanya
    Ya Allah Sang Pemilik Hati
    Cinta ini hadir atas kehendak-MU
    Sayang ini tumbuh atas kuasa-MU
    Tak berdaya kala rindu melanda
    Hanya do’a yang bisa ku pinta
    Lindungilah hati kami berdua
    Dari godaan yang datang menerpa
    Janganlah membutakan mata
    Jangan pula menulikan telinga
    Dari berpaling ke fatamorgana dunia
    Ya Allah,
    Aku tidaklah semulia Khadijah
    Tidak pula setaqwa Aisyah
    Dan mungkin tak setabah Fatimah
    Apalagi secantik Zulaikha
    Tak perlulah dia setampan Nabi Yusuf
    Juga berharta seluas berbendaharaan Nabi Sulaiman
    Atau kekuasaan seluas Kerajaan Nabi Muhammad
    Yang mampu mendebarkan hati jutaan wanita
    Untuk dapat membuatku terpikat
    Cukuplah hati kami tertaut pada-MU
    Yang memiliki dan menguasai seluruh alam
    Jaga cinta ini dalam naungan-MU
    Hanya ridho dari harap pada-MU
    Cintakanlah kami atas dasar Cinta-MU
    Hadirku kan menguatkan cintanya pada-MU
    Hadirnya jua kuatkan cintaku pada-MU
    Agar bersama kami berjalan menuju jalan-MU

Kata-kata Mutiara Casanova

Monggo langsung saja dilihat kata kata mutiara cinta ala casanova di bawah ini.
    cintaku padamu tak mengenal latitude, longitude, elevasi ataupun azimuth..
    dimanapun engkau mengorbit, GPS dihatiku kan selalu menemukanmu
ku ingin kau selalu online dlm kehidupanku,
kan selalu ku update cintaku didinding hatimu,
postinganmu adalah inspirasiku, selalu ku tunggu PM darimu..
applaud for you..
    Ini kali terakhir bagi kita membelah kelam. Kala burung-burung malam kian bersuara parau dan mulai kibaskan kepak-kepak nyeri. Sementara aku melepasmu dengan lara di hatiku..
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti kata yg tak sempat diucapkan awan kpd hujan yg menjadikannya air. Aku ingin mencintaimu dgn sederhana, seperti kata yg tak sempat diisyaratkan api kpd kayu yg menjadikannya tiada.
    saat rasa ini mulai membeku, snyummu datang membawa rindu. sayang I LOVE YOU
teman2 bilang, aq musti beli motor baru agar kau mau menoleh pada q..
pak guru bilang, aq musti rajin belajar agar bisa mendapat perhatian dari mu..
wak haji bilang, aq musti kudu sering k mesjid agar bisa mendapat simpati darimu..
mbah dukun bilang, aq musti mandi kembang 7 rupa utk menakhlukkan hatimu..
rekan2 forsat bilang, aq musti masuk ketread  'ini'  agar punya jurus utk merayumu..
hiaaaaaat hiaaaaaat hiaaaaaat
tak dinyana..!!!!!!
satu kata CINTA saja ternyata sudah cukup bagi q utk meluluhkan hatimu
    Siapakah engkau gerangan putri dari khayangan..
    Jemarimu begitu cantik, hatiku tergelitik..
    Seperti ada kupu-kupu menari dalam dadaku..
Jika air adalah ciuman, aku akan kirimkan lautan.
Jika pelukan adalah daun, aku akan kirimkan pohon.
Jika cinta itu abadi, kutawarkan keabadian cintaku padamu!
    Kutuliskan namamu di langit, angin meniupnya.
    Kutuliskan namamu di laut, badai membawanya.
    Kutuliskan namamu di hatiku, cinta namanya.
Ada 12 bulan dalam setahun,
30 hari dalam sebulan,
7 hari dalam seminggu,
60 detik dalam satu jam.
Tapi hanya ada kamu seorang sepanjang hidupku.
    Hanya ada dua alasan aku bangun setiap pagi: alarmku dan kamu!
Dalam benak orang bijak ada ide, solusi dan alasan.
Dalam benak para ahli ada formula kimia, teori dan rumus.
Di dalam benakku, hanya ada kamu!
    Aku pernah berpikir, aku tak akan bisa mewujudkan impianku.
    Tapi pikiran itu sekejap hilang sejak aku melihatmu.
Kata dimulai dengan ABC, Angka dimulai dengan 123.
Lagu dimulai dengan do re mi.
Cinta dimulai dengan aku dan kamu
    Ada samudera di lautan, ada hutan di pegunungan.
    Semuanya kuseberangi demi cintaku padamu, sudahkah kamu menerimanya?
Saat kukirimkan SMS ini aku kehabisan kata-kata.
Kehabisan Baterai.
Kehabisan Pulsa.
Tapi cintaku ini takkan pernah habis untukmu.
    Sherlock Holmes itu idiot!
    Graham Bell itu bodoh!
    Yang satu detektif, yang satu penemu telepon.
    Tapi tak seorangpun yang menemukanmu selain aku. Aku jenius ya!
Ah aku lupa namamu, boleh aku memanggilmu milikku?
Dan kamu juga lupa namaku Kamu boleh memanggil aku milikmu kok
    Cinta itu 4 langkah doang:
    1. aku
    2. kamu
    3. kita
    4. cinta
Aku mencintaimu! Jika kamu benci aku, panah saja diriku.
Tapi jangan di hatiku ya, karena di situ kamu berada
    Kuminta mawar diberi-NYA taman.
    Kuminta setetes air diberi-NYA lautan.
    Kuminta malaikat diberi-NYA kamu!
Hei kamu! Kamu pasti pencuri karena kamu mencuri hatiku.
Kamu pasti lelah karena kamu selalu berlari di pikiranku.
Tapi aku kangen kamu
    Kenapa sih kamu nggak SMS-in aku...
    a. Sibuk
    b. Lagi Nyetir
    c. Lupa
    d. kamu pengen aku kangenin kamu ya?
Seorang malaikat bertanya padaku, kenapa sih kamu cinta dia?
Aku menjawabnya, karena tidak ada alasan untuk tidak mencintai dia
    Aku dan kamu itu malaikat dengan satu sayap.
    Jadi kalau kamu nggak bisa , boleh nggak sih aku menemani kamu?
Boleh nggak sih aku bilang aku cinta kamu hari ini?
kalau besok gimana?
besok lusa?
besoknya besok lusa?
gimana kalau selamanya?
    Kamu bilang Hi! aku diem aja.
    Kamu tersenyum, aku buang muka.
    Kamu bilang cinta, aku nggak suka.
    Tapi kalau kamu bilang selamat tinggal, aku kehilangan.
Sahabat itu manis kalau baru.
Lebih manis kalau jadi cinta.
Tapi yang paling manis kalau itu adalah kamu.
    Kalau kamu sedih nanti, telepon aku ya.
    Aku nggak janji bikin kamu ketawa,
    tapi aku janji aku akan menangis bersamamu.
Saat melihatmu, aku takut menyentuhmu.
Saat menyentuhmu, aku takut menciummu.
Saat menciummu, aku takut mencintaimu.
Saat mencintaimu, aku takut kehilanganmu.
    Andai jadi bantal, biar kau bersandar.
    Andai aku jadi tempat tidur, biar kau berbaring.
    Andai aku jadi selimut, akan kupeluk kau erat.
Alasan kenapa aku kangen kamu:
karena kamu manis,
kamu baik,
kamu cakep deh,
dan kamu belum SMS-in aku!

Puisi Cinta Menyentuh Hati

Tunggulah Aku _

Tak kan pernah ku putar haluan
jika rasa kerinduan ini memang
hanya untukmu .
ketika suatu saat nanti perjalananku
telah usai ku tempuh dan bersandar
di dermaga hatimu .

Sayangku ....!
Lihatlah temaram senyum jingga
nun jauh di sana .
ia telah melambaikan hangat sapaku
untukmu yang selalu kusenandungkan
ketika gurat senja hadir menyapa .

Ada melodi indah dan sajak aksaraku
yang selalu ku simpan di dalam hatimu
hingga di sini mampu ku rasakan
getar keindahanya yang sempurna .

Ada kenangan yang selalu indah
dan membayang di pelupuk netra ini
ketika mengingat sedih rasaku hanya
ku mampu peluk bayanganmu saat ini .

Ada cerita yang tiada pernah pudar
karna di sana telah kuukir dengan
darah dan airmata seperti hatiku yang tiada mampu ku menjauh darimu .

Sayang ...!
Tunggulah hadirku dalam timang malam
ketika hawa rindu itu datang
dan menyemai di pucuk mimpi
pelukan terindah kita nanti
dan aku pasti kan datang dan bersandar
hangat dalam dermaga kasihmu .

Harianku Terluka _

entah ...!
gelisah ini hinggap di benakku
menjalar perlahan dengan jeritan
menjerat jiwaku dengan dusta .

adalah sebuah malam
yang setia membagikan duka
ketika keresahan selalu hadir
dalam kerapuhan diriku .

ujung sunyi kian menari
kukecap dengan sendiri
kunikmati tanpa mimpi
semua bagai berlari
anganku terganti luka hati .

Januari telah berlalu
namun sisa_sisa sedih dan pilu masih jua
melekat di dalam dinding hatiku .

entahlah ...
mengapa kenangan yang indah
tak jua kau mengingatnya untukku
hanya sebait sesalmu yang kau
hadirkan dalam sapa ungkap hatimu .

Namun ....!
Akan kuterima semua nasib jiwa ini
karna aku sadar memang tak kan
pernah mampu bahagiakan dirimu
seperti apa yang kau mau dariku .

Senja ini terlukis sudah
sebait kata aroma yang tertiup
nyiur gugur dalam hembusan
sang bayu ,kaua torehkan ingatanku
untuk sebuah rasa kesakitan
yang telah meretakan cerita kita .

Sayangku ...
aku tak kan memulai untuk sebuah
pertikaian ego yang hanya membuat
lemahnya pikiran hati kita .

_ Kau undang aku dalam kesedihan
isak yang menyemai di ujung mimpi
ketika hening telah kusingahi
tentang ceritamu dengan
nyanyian kisah pilu .

_ Denting sayup kian menyemai
pada semilir sajak sunyiku di sini saat
ilalang lengang terdiam
dengan tunduk duduk menari
menyua bahasa hati .

_ Kaukah cerita itu dengan terbata
ungkapkan secuil kisah lama
pada daun malam yang kian
lepas dari ranting karna mendengar
isak sedihmu di malam ini .

_ Harap tersenyumlah
sambut purnama yang bersinar
sajikan senyum sapamu di sana
agar luka dan cerita usang
mampu tertawa karna hadirmu
telah kunanti dengan bisik mimpikiu di sini .

Puisi Cinta Khalil Gibran

BAYANG
Oleh Kahlil Gibran

Setiap langkah ku ada dia..
Mengikuti di belakang punggungnya. .
Gelap dan tak terlihat..
Kasat mata..

Terdiam kala banyak yang membicarakannya. .
Seakan tak seorang pun memandang kearah ku..
Sibuk mengagumi pesonanya..
Sibuk meminta senyumannya. .

Akulah sang tak terlihat..
Saat dia berada di dekat ku..

Akulah sang gelap..
Dibalik wajah cerah nya..

Akulah sang kasat mata..
Ada namun seakan tak ada..

Akulah sang bayang..
Sesuatu yang tak dianggap ada..

menunggu

Hari terhitung minggu
Minggu pun menjadi bulan..
Pagi ku mengingat mu
Malam ku mengenangmu

Tetap saja semua sama
Sejak kau pergi..
Ku masih saja menanti mu
Hingga kau kembali
Dan takkan tinggalkan ku lagi..
Entah kapan..

Menunggu mu masih..
Setia tetap ku janji..
Hingga ku dapat kau kembali..
Bersama jalani hari..

    CINTA SETUBUH PADAS
    Oleh Kahlil Gibran

    Cinta setubuh padas!
    Bergelang waktu menggoda
    sesal anak rahim di kandung celaka.
    Mengunci tabir di buih-buih selaksa doa.

    Mungkin karunia itu berakhir patah, atau
    sekedar mengusap lempeng cumbu
    bertahta angin! Dan cinta kian
    menitik air mata di seanyam arang,
    mantra hati menyusut di susuk semangat.

    “Kembalikanlah amarahku; oh, cermin sangga!”

    Lembut suara angannya mengelus padas,
    agar memeluk kerat penguak duri
    percintaan bersanding ajal.
    Keadilan Cinta
    ketika hati melangkah
    ketika hasrat menggema
    ketika rasa bergetar
    saat itu daya tak kuasa
    menemukan kekasih hati

    Dimanakah posisi cinta
    dikala hati menginginkannya
    apakah cinta hanya sebuah pelampiasan
    dari hasrat diri
    dimanakah rasa
    dikala posisi cinta bergeser

    Cinta,
    adakah cinta untukku
    apakah cinta bisa berbuat adil

    Entahlah...
    dayaku tak kuasa lagi untuk menemukan cinta


7 ALASAN MENCELA DIRIMU
Oleh Kahlil Gibran

Tujuh kali aku pernah mencela jiwaku,
pertama kali ketika aku melihatnya lemah,
padahal seharusnya ia bisa kuat.

Kedua kali ketika melihatnya berjalan terjongket-jongket
dihadapan orang yang lumpuh

Ketiga kali ketika berhadapan dengan pilihan yang sulit dan mudah
ia memilih yang mudah

Keempat kalinya, ketika ia melakukan kesalahan dan cuba menghibur diri
dengan mengatakan bahawa semua orang juga melakukan kesalahan

Kelima kali, ia menghindar kerana takut, lalu mengatakannya sebagai sabar

Keenam kali, ketika ia mengejek kepada seraut wajah buruk
padahal ia tahu, bahawa wajah itu adalah salah satu topeng yang sering ia pakai

Dan ketujuh, ketika ia menyanyikan lagu pujian dan menganggap itu sebagai suatu yang bermanfaat

    ANTARA PAGI DAN MALAM HARI
    Oleh Kahlil Gibran
    TENANGLAH hatiku, kerana langit tak pun mendengari
    Tenanglah, kerana bumi dibebani dengan ratapan kesedihan.
    Dia takkan melahirkan melodi dan nyanyianmu.
    Tenanglah, kerana roh-roh malam tak menghiraukan bisikan rahsiamu, dan bayang-bayang tak berhenti dihadapan mimpi-mimpi.
    Tenanglah, hatiku. Tenanglah hingga fajar tiba, kerana dia yang menanti pagi dengan sabar akan menyambut pagi dengan kekuatan. Dia yang mencintai cahaya, dicintai cahaya.
    Tenanglah hatiku, dan dengarkan ucapanku.

    DALAM mimpi aku melihat seekor murai menyanyi saat dia terbang di atas kawah gunung berapi yang meletus.
    Kulihat sekuntum bunga Lili menyembulkan kelopaknya di balik salju.
    Kulihat seorang bidadari te***jang menari-menari di antara batu-batu kubur.
    Kulihat seorang anak tertawa sambil bermain dengan tengkorak-tengkorak.
    Kulihat semua makhluk ini dalam sebuah mimpi. Ketika aku terjaga dan memandang sekelilingku, kulihat gunung berapi memuntahkan nyala api, tapi tak kudengar murai bernyanyi, juga tak kulihat dia terbang.
    Kulihat langit menaburkan salju di atas padang dan lembah, dilapisi warna putih mayat dari bunga lili yang membeku.
    Kulihat kuburan-kuburan, berderet-deret, tegak di hadapan zaman-zaman yang tenang. Tapi tak satu pun kulihat di sana yang bergoyang dalam tarian, juga tidak yang tertunduk dalam doa.
    Saat terjaga, kulihat kesedihan dan kepedihan; ke manakah perginya kegembiraan dan kesenangan impian?
    Mengapa keindahan mimpi lenyap, dan bagaimana gambaran-gambarannya menghilang? Bagaimana mungkin jiwa tertahan sampai sang tidur membawa kembali roh-roh dari hasrat dan harapannya?

    DENGARLAH hatiku, dan dengarlah ucapanku.
    Semalam jiwaku adalah sebatang pohon yang kukuh dan tua, menghunjam akar-akarnya ke dasar bumi dan cabang-cabangnya mencekau ke arah yang tak terhingga.
    Jiwaku berbunga di musim bunga, memikul buah pada musim panas. Pada musim gugur kukumpulkan buahnya di mangkuk perak dan kuletakkannya di tengah jalan. Orang-orang yang lalu lalang mengambil dan memakannya, serta meneruskan perjalanan mereka.

    KALA musim gugur berlalu dan gita pujinya bertukar menjadi lagu kematian dan ratapan, kudapati semua orang telah meninggalkan diriku kecuali satu-satunya buah di talam perak.
    Kuambil ia dan memakannya, dan merasakan pahitnya bagai kayu gaharu, masam bak anggur hijau.
    Aku berbicara dalam hati,"Bencana bagiku, kerana telah kutempatkan sebentuk laknat di dalam mulut orang-orang itu, dan permusuhan dalam perutnya.
    " Apa yang telah kaulakukan, jiwaku, dengan kemanisan akar-akarmu itu yang telah meresap dari usus besar bumi, dengan wangian daun-daunmu yang telah meneguk cahaya matahari?"
    Lalu kucabut pohon jiwaku yang kukuh dan tua.
    Kucabut akarnya dari tanah liat yang di dalamnya dia telah bertunas dan tumbuh dengan subur. Kucabut akar dari masa lampaunya, menanggalkan kenangan seribu musim bunga dan seribu musim gugur.
    Dan kutanam sekali lagi pohon jiwaku di tempat lain.
    Kutanam dia di padang yang tempatnya jauh dari jalan-jalan waktu. Kulewatkan malam dengan terjaga di sisinya, sambil berkata,"Mengamati bersama malam yang membawa kita mendekati kerlipan bintang."
    Aku memberinya minum dengan darah dan airmataku, sambil berkata,"Terdapat sebentuk keharuman dalam darah, dan dalam airmata sebentuk kemanisan."
    Tatkala musim bunga tiba, jiwaku berbunga sekali lagi.

    PADA musim panas jiwaku menyandang buah. Tatkala musim gugur tiba, kukumpulkan buah-buahnya yang matang di talam emas dan kuletakkan di tengah jalan. Orang-orang melintas, satu demi satu atau dalam kelompok-kelompok, tapi tak satu pun menghulurkan tangannya untuk mengambil bahagiannya.
    Lalu kuambil sebuah dan memakannya, merasakan manisnya bagai madu pilihan, lazat seperti musim bunga dari syurga, sangat menyenangkan laksana anggur Babylon, wangi bak wangi-wangian dari melati.
    Aku menjerit,"Orang-orang tak menginginkan rahmat pada mulutnya atau kebenaran dalam usus mereka, kerana rahmat adalah puteri airmata dan kebenaran putera darah!"
    Lalu aku beralih dan duduk di bawah bayangan pohon sunyi jiwaku di sebuah padang yang tempatnya jauh dari jalan waktu.

    TENANGLAH, hatiku, hingga fajar tiba.
    Tenanglah, kerana langit menghembus bau hamis kematian dan tak bisa meminum nafasmu.
    Dengarkan, hatiku, dan dengarkan aku bicara.
    Semalam fikiranku adalah kapal yang terumbang-ambing oleh gelombang laut dan digerakkan oleh angin dari pantai ke pantai
    Kapal fikiranku kosong kecuali untuk tujuh cawan yang dilimpahi dengan warna-warna, gemilang berwarna-warni.
    Sang waktu datang kala aku merasa jemu terapung-apungan di atas permukaan laut dan berkata,
    "Aku akan kembali ke kapal kosong fikiranku menuju pelabuhan kota tempat aku dilahirkan."
    Tatkala kerjaku selesai, kapal fikiranku
    Aku mulai mengecat sisi-sisi kapalku dengan warna-warni - kuning matahari terbenam, hijau musim bunga baru, biru kubah langit, merah senjakala yang menjadi kecil. Pada layar dan kemudinya kuukirkan susuk-susuk menakjubkan, menyenangkan mata dan menyenangkan penglihatan.
    Tatkala kerjaku selesai, kapal fikiranku laksana pandangan luas seorang nabi, berputar dalam ketidakterbatasan laut dan langit. Kumasuki pelabuhan kotaku, dan orang muncul menemuiku dengan pujian dan rasa terima kasih. Mereka membawaku ke dalam kota, memukul gendang dan meniup seruling.
    Ini mereka lakukan kerana bahagian luar kapalku yang dihias dengan cemerlang, tapi tak seorang pun masuk ke dalam kapal fikiranku.
    Tak seorang pun bertanya apakah yang kubawa dari seberang lautan
    Tak seorang pun tahu kenapa aku kembali dengan kapal kosongku ke pelabuhan.
    Lalu kepada diriku sendiri, aku berkata,"Aku telah menyesatkan orang-orang, dan dengan tujuh cawan warna telah kudustai mata mereka"

    Setelah setahun aku menaiki kapal fikiranku dan kulayari di laut untuk kedua kalinya.
    Aku berlayar menuju pulau-pulau timur, dan mengisi kapalku dengan dupa dan kemenyan, pohon gaharu dan kayu cendana.
    Aku berlayar menuju pulau-pulau barat, dan membawa bijih emas dan gading, batu merah delima dan zamrud, dan sulaman serta pakaian warna merah lembayung.
    Dari pulau-pulau selatan aku kembali dengan rantai dan pedang tajam, tombak-tombak panjang, serta beraneka jenis senjata.
    Aku mengisi kapal fikiranku dengan harta benda dan barang-barang lhasil bumi dan kembali ke pelabuhan kotaku, sambil berkata, "Orang-orangku pasti akan memujiku, memang sudah pastinya. Mereka akan menggendongku ke dalam kota sambil menyanyi dan meniup trompet"
    Tapi ketika aku tiba di pelabuhan, tak seorangpun keluar menemuiku. Ketika kumasuki jalan-jalan kota, tak seorang pun memerhatikan diriku.
    Aku berdiri di alun-alun sambil mengutuk pada orang-orang bahawa aku membawa buah dan kekayaan bumi. Mereka memandangku, mulutnya penuh tawa, cemuhan pada wajah mereka. Lalu mereka berpaling dariku.
    Aku kembali ke pelabuhan, kesal dan bingung. Tak lama kemudian aku melihat kapalku. Maka aku melihat perjuangan dan harapan dari perjalananku yang menghalangi perhatianku. Aku menjerit.
    Gelombang laut telah mencuri cat dari sisi-sisi kapalku, tak meninggalkan apa pun kecuali tulang belulang yang bertaburan.
    Angin, badai dan terik matahari telah menghapus lukisan-lukisan dari layar, memudarkan ia seperti pakaian berwarna kelabu dan usang.
    Kukumpulkan barang-barang hasil dan kekayaan bumi ke dalam sebuah perahu yang terapung di atas permukaan air. Aku kembali ke orang-orangku, tapi mereka menolak diriku kerana mata mereka hanya melihat bahagian luar.
    Pada saat itu kutinggalkan kapal fikiranku dan pergi ke kota kematian. Aku duduk di antara kuburan-kuburan yang bercat kapur, merenungkan rahsia-rahsianya.

    TENANGLAH, hatiku, hingga fajar tiba.
    Tenanglah, meskipun prahara yang mengamuk mencerca bisikan-bisikan batinmu, dan gua-gua lembah takkan menggemakan bunyi suaramu.
    Tenanglah, hatiku, hingga fajar tiba. Kerana dia yang menantikan dengan sabar hingga fajar, pagi hari akan memeluknya dengan semangat.
    NUN di sana! Fajar merekah, hatiku. Bicaralah, jika kau mampu bicara!
    Itulah arak-arakan sang fajar, hatiku! Akankah hening malam melumpuhkan kedalaman hatimu yang menyanyi menyambut fajar?
    Lihatlah kawanan merpati dan burung murai melayang di atas lembah. Akankah kengerian malam menghalangi engkau untuk menduduki sayap bersama mereka?
    Para pengembala memandu kawanan dombanya dari tempat ternak dan kandang.
    Akankah roh-roh malam menghalangimu untuk mengikuti mereka ke padang rumput hijau?
    Anak lelaki dan perempuan bergegas menuju kebun anggur. Kenapa kau tak berganjak dan berjalan bersama mereka?
    Bangkitlah, hatiku, bangkit dan berjalan bersama fajar, kerana malam telah berlalu. Ketakutan malam lenyap bersama mimpi gelapnya.
    Bangkitlah, hatiku, dan lantangkan suaramu dalam nyanyian, kerana hanya anak-anak kegelapan yang gagal menyatu ke dalam nyanyian sang fajar.