Semakin tua usia kita,maka bertambah pula beban dan tanggung jawab.
Masa yang luang dulunya selalu setia menemani,kini beranjak pergi satu persatu.
oh..muda..begitu cepatnya engkau meninggalkanku,takdir umur telah menjadi kudrah tubuh yang hina ini.
Sedangkan engkau hai tua sekarang sangat akrab setia denganku,entah berapa generasi kau akan selalu bersamaku?
jika Allah mengizinkan.Semua insan
Saat rindu menyesak di dada
Terbungkus derita menyayat hati
Aku seperti kehabisan nafas
Habis oksigen karena merindukanmu
-----------------------------------------------
Aku takut terbiasa dengan rasa ini
Membuat hati jadi kebal rasa
Aku takut terbiasa dengan rindu ini
Membuat hati jadi mati rasa
-----------------------------------------------
Segenap hati aku menjaga
Agar pelita cinta tetap menyala
Tak kubiarkan redup walau sesaat
Semua kulakukan hanya untukmu
-----------------------------------------------
Adakah cinta tanpa mata?
Walau sesaat ingin bertemu
Bebaskan hati dari belenggu
Belenggu rindu karna dirimu
“Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah amal yang terus menerus meskipun hanya sedikit” (Muhammad SAW)
“Orang yang beramal tanpa didasari oleh ilmu, maka amalnya akan sia-sia belaka karena tidak diterima oleh Allah SWT” (Ibnu Ruslan)
“Pangkal dari semua kebaikan di dunia maupun di akhirat adalah taqwa kepada Allah” (Abu Sulaeman Addarani)
“Sifat rendah hati yaitu taat dalam mengerjakan kebenaran dan menerima kebenaran itu yang datangnya dari siapapun” (Fudlail bin Iyadl)
“Pikiran merupakan sumber dari ilmu, sedangkan ilmu itu sendiri merupakan sumber amal” (Wahb)
“Hendaklah kamu tetap berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu” (Lukman Hakim)
“Orang yang bijak tidak akan terpeleset oleh harta, meskipun terpeleset ia akan mendapatkan pegangan” (Abdullah bin Abbas)
“Memerintah atau mengawasi diri sendiri akan jauh lebih sulit dan lebih baik daripada memerintah dan mengawasi suatu negeri” (Ibrahim bin Adham)
“Kerjakan apa saja yang telah menjadi hak dan kewajibanmu, karena kebahagiaan hidupmu terletak disitu” (Musthafa Al-Gholayani)
“Yang disebut dengan teguh hati adalah memegang dengan sungguh-sungguh apa yang dibutuhkan olehmu dan membuang yang selain itu” (Aktssam bin Shaifi)
“Setiap manusia memiliki orang yang dicintai dan dibenci, Tapi untukmu, jika ada berkumpulah dengan orang-orang yang bertakwa” (Imam Syafii)
“Pengkhianatan yang paling besar adalah pengkhianatan umat. Sedangkan pengkhianatan yang paling keji adalah pengkhianatan pemimpin” (Ali bin Abi Thalib)
“Setiap manusia hendaknya memperhatikan waktu juga sekaligus mengutamakannya” (Umar bin Utsman Al-Maliky)
“Biasakan hatimu untuk bertafakur dan biasakan matamu untuk sering menangis” (Abu Sulaiman Ad-Darani)
“Orang yang sehari-harinya hanya sibuk untuk mencari uang demi kesejahteraan keluarganya, maka mustahil ia mendapatkan ilmu pengetahuan” (Imam Syafii)
“Barang siapa tidak menghargai nikmat, maka nikmat itu akan diambil dalam keadaan ia tidak mengetahuinya” (Siriy Assaqathi)
“Bekerjalan untuk keperluan makanmu. Sedangkan yang paling baik bagimu adalah bangun di tengah malam dan berpuasa di siang hari” (Ibrahim bin Adham)
“Sedikit makan, sedikit tidur dan sedikit kesenangan merupakan ciri-ciri orang yang dicintai oleh Allah” (Abu Bakar bin Abdullah Al-Muzani)
“Jangan berteman yang hanya mau menemanimu disaat kamu sehat dan kaya, karena teman seperti itu sungguh sangat berbahaya sekali untukmu dibelakang hari” (Imam Ghozali)
Ajari aku cinta untuk bersabar..
Untuk menemukan Imam yang benar..
Untuk menjaga segala kemuslimahanmu..
Mengangkat derajat keimananku..
Serta membawaku dalam Indahnya agama Allah..
Ajari aku cinta untuk bertahan..
Pada kebaikan..
Pada keistiqomahan..
Pada Indahnya sendiri tanpa sentuhan haram..
Pada keindahan Cinta yang selalu terpendam..
Ajari aku cinta..
Seperti Para makhluk tuhan yang selalu berdzikir..
Seperti Hamba-hamba Tuhan yang selalu berfikir..
Di jauhkan dari manusia-manisa kafir..
Dan selalu ada dalam kerendahan hati tanpa kikir..
Ajari aku Cinta..
Aku ingin memilikimu karena TuhanMu, Allah..
Aku ingin menjadi pendampingmu karena Ajaran TuhanMu, Allah..
Aku ingin mencintai dan melengkapai kehidupanku juga hanya ada di jalan TuhanMu, Allah..
Demi Cintaku padamu, Karena Allah..
Hanya Karena TuhanMu, Allah..
Jadilah Imamku yang sempurna..
Yang selalu mencari cinta di jalan TuhanMu, Allah..
Untukmu Yang akan menjadi Imamku..
Berlalu Masa
Berlalu masa, saat orang-orang meminta pertolongan padaku
Dan sekarang, adakah seorang penolong yang akan
mengabarkan rahasia jiwaku pada Layla?
Wahai Layla, Cinta telah membuatku lemah tak berdaya
Seperti anak hilang, jauh dari keluarga dan tidak
memiliki harta
Cinta laksana air yang menetes menimpa bebatuan
Waktu terus berlalu dan bebatuan itu akan hancur,
berserak bagai pecahan kaca
Begitulah cinta yang engkau bawa padaku
Dan kini hatiku telah hancur binasa
Hingga orang-orang memanggilku si dungu yang suka
merintih dan menangis
Mereka mengatakan aku telah tersesat
Duhai, mana mungkin cinta akan menyesatkan
Jiwa mereka sebenarnya kering, laksana dedaunan
diterpa panas mentari
Bagiku cinta adalah keindahan yang membuatku tak
bisa memejamkan mata
Remaja manakah yang dapat selamat dari api cinta?
(Bab II, hlm. 10, situasi ketika nyala api asmara dalam hati Qays mulai berkobar dan kebiasaannya kini hanya melamun dan merangkai syair)
Layla Telah Dikurung
Layla telah dikurung dan orangtuanya mengancamku
Dengan niat jahat lagi kejam, aku tidak bisa bertemu lagi
Ayahku dan ayahnya sesak dada dan sakit hati padaku
Bukan karena apapun juga, hanya karena aku mencintai Layla
Mereka menganggap cinta adalah dosa
Cinta bagi mereka adalah noda yang harus dibasuh
hingga bersih
Padahal kalbuku telah menjadi tawanannya
Dan ia juga merindukanku
Cinta masuk ke dalam sanubari tanpa kami undang
Ia bagai ilham dari langit yang menerobos dan
bersemayam dalam jiwa kami
Dan kini kami akan mati karena cinta asmara yang telah
melilit seluruh jiwa
Katakanlah padaku, pemuda mana yang bisa bebas dari
penyakit cinta?
(Bab II, hlm. 15, situasi ketika cinta yang bersemayam di hati mendapat rintangan)
Wahai Layla Kekasihku
Wahai Layla kekasihku
Berjanjilah pada keagungan cinta agar sayap jiwamu dapat terbang bebas
Melayanglah bersama cinta laksana anak panah menuju sasaran
Cinta tidak pernah membelenggu
Karena cinta adalah pembebas, yang akan melepaskan
buhul-buhul keberadaan
Cinta adalah pembebas dari segala belenggu
Walau dalam cinta, setiap cawan adalah kesedihan
Namun jiwa pecinta akan memberi kehidupan baru
Banyak racun yang harus kita teguk untuk menambah
kenikmatan cinta
Atas nama cinta, racun yang pahit pun terasa manis
Bertahanlah kekasihku, dunia diciptakan untuk kaum pecinta
Dunia ada karena ada cinta
(Bab II, hlm. 16-17, situasi ketika Qays dalam kerinduan memuncak mengendap-endap ke rumah Layla, seraya menciumi rumah mawar itu dengan derai airmata membasahi pipi. Ia melantunkan syair ini, tak peduli apakah Layla mendengar atau syairnya tertelan dinding rumah)
Wahai Angin Sampaikan Salamku pada Layla
Wahai angin sampaikan salamku pada Layla!
Tanyakan padanya apakah dia masih mau berjumpa denganku?
Apakah ia masih memikirkan diriku?
Bukankah telah kukorbankan kebahagiaanku demi dirinya?
Hingga diri ini terlunta-lunta, sengsara di padang pasir gersang
Wahai kesegaran pagi yang murni dan indah!
Maukah engkau menyampaikan salam rindu pada kekasihku?
Belailah rambutnya yang hitam berkilau
Untuk mengungkapkan dahaga cinta yang memenuhi hatiku
Wahai angin, maukah engkau membawakan keharuman
rambutnya padaku
Sebagai pelepas rindu
Sampaikan pada gadis yang memikat hati itu
Betapa pedih rasa hatiku jika tidak bertemu dengannya
Hingga tak kuat lagi aku menanggung beban kehidupan
Aku merangkak melintasi padang pasir
Tubuh berbalut debu dan darah menetes
Airmataku pun telah kering
Karena selalu meratap dan merindukannya
Duhai semilir angin pagi, bisikkan dengan lembut salamku
Sampaikan padanya pesanku ini:
Duhai Layla, bibirmu yang selaksa merah delima
Mengandung madu dan memancarkan keharuman surga
Membahagiakan hati yang memandang
Biarkan semua itu menjadi milikku!
Hatiku telah dikuasai oleh pesona jiwamu
Kecantikanmu telah menusuk hatiku laksana anak panah
Hingga sayap yang sudah patah ini tidak mungkin dapat terbang
Berbagai bunga warna-warni menjadi layu dan mati
Karena cemburu pada kecantikan parasmu yang bersinar
Engkau laksana dewi dalam gelimang cahaya
Surgapun akan tertarik untuk mencuri segala keindahan
yang engkau miliki
Karena engkau terlalu indah dan terlalu berharga untuk
tinggal di bumi!
Duhai Layla, dirimu selalu dalam pandangan
Siang selalu kupikirkan dan malam selalu menghiasi mimpi
Hanya untukmu seorang jiwaku rela menahan kesedihan
dan kehancuran
Jeritanku menembus cakrawala
Memanggil namamu sebagai pengobat jiwa, penawar kalbu
Tahukah engkau, tahi lalat di dagumu itu seperti sihir
yang tidak bisa aku hindari
Ia menjadi sumber kebahagiaan yang telah memikatku
untuk selalu mengenangmu
Membuat insan yang lemah ini tidak lagi mempunyai jiwa
Karena jiwaku telah tergadaikan oleh pesonamu yang memabukkan
Jiwaku telah terbeli oleh gairah dan kebahagiaan cinta
yang engkau berikan
Dan demi rasa cintaku yang mendalam
Aku rela berada di puncak gunung salju yang dingin seorang diri
Berteman lapar, menahan dahaga
Wahai kekasihku, hidupku yang tidak berharga ini suatu saat akan lenyap
Tapi biarkan pesonamu tetap abadi selamanya di hatiku
(Bab III, hlm. 21-23, situasi ketika Qays mulai sering meninggalkan rumah, hidup sendirian di padang pasir gersang atau hutan belantara yang berbahaya. Ia tidak lagi merawat tubuh, membiarkan rambut memanjang dan ke sana-kemari bertelanjang dada. Saat berjalan di kampung-kampung, orang-orang akan memanggilnya dengan Majnun, si gila. Dan anak-anak kecil akan mengikuti langkahnya dari belakang sambil melempari batu. Meski demikian dari mulutnya yang kering tetap keluar syair-syair yang indah)
Duhai, Betapa Besar Bahaya yang Menghadang
Duhai, betapa besar bahaya yang menghadang agar
dapat berjumpa denganmu
Kukorbankan semua yang aku miliki
Kuubah diriku, hingga engkau pun tidak mengenaliku
Kuayunkan langkah dengan tetes air mata
Dan setelah memasuki perkampunganmu
Kubuang semua tanda-tanda yang dapat membuat orang
mengenaliku
Kuikat diriku dengan rantai, bagai budak belian
Berjalan sambil menadahkan tangan, meminta sedekah
Dan bocah-bocah itu tidak suka melihatku
Mereka berkumpul mengelilingiku
Menghardik dan melemparku, seperti anjing berbahaya
Kini aku datang di dekatmu
Duhai Layla, tak mampu kutahan air mata yang menetes
Kasihanilah kelemahanku
Karena begitu berat penderitaanku
(Bab IV, hlm. 26, situasi ketika Majnun meminjam rantai di leher pada seorang nenek, agar dapat meminta sedekah dari rumah ke rumah. Dengan begitu ia dapat leluasa masuk ke kampung Layla tanpa dikenali. Jiwanya tergetar hebat saat ia menyelinap masuk ke taman di samping rumah Layla. Dibacakanlah syair di atas dan mendengar itu Layla keluar rumah. Hampir tak dikenalinya lelaki itu. Tapi saat memperhatikan air mata yang menetes, sadarlah Layla, bahwa lelaki yang berdiri di depannya adalah Qays. Disebutkan bahwa Layla tidak seperti gadis, melainkan bidadari yang lembut dan halus, sedang Qays merasa dirinya seperti batang kayu yang habis terbakar)
Kerabat dan Handai-Taulan Mencelaku
Kerabat dan handai-taulan mencelaku
Karena aku telah dimabukkan oleh kecantikan Layla
Ayah, putera-putera paman dan bibi
Mencela dan menghardik diriku
Mereka tidak mampu membedakan cinta dengan hawa nafsu
Nafsu mengatakan pada mereka, keluarga kami berseteru
Mereka tidak tahu, dalam cinta tidak ada seteru atau sahabat
Cinta hanya mengenal kasih sayang
Kubertanya dalam kalbu, ada apakah gerangan?
Keluarga Layla tak akan menjual anak gadisnya
Berapapun harga yang ditawarkan
Dan keluargaku tak hendak membeli
Semoga Allah menakdirkan kebaikan bagi kami
Dengan kerinduan mendalam yang selalu aku simpan
Semoga kelak kami dipertemukan
Tidakkah mereka mengetahui?
Kini jiwaku telah terbagi
Satu belahan adalah diriku
Sedang yang lain telah kuisi untuknya
Tiada bersisa selain untuk kami
Wahai burung-burung merpati yang terbang di angkasa
Wahai negeri Irak yang damai
Tolonglah aku
Sembuhkanlah rasa gundah-gulana yang membuat kalbuku tersiksa
Dengarkanlah tangisanku, suara batinku
Duhai, mereka menyampaikan kabar buruk
Layla sakit karena guna-guna
Mereka tidak tahu, sesungguhnya akulah tabib yang ia perlukan
Akulah yang mampu mengobati penyakitnya
Waktu terus berlalu, usia semakin menua
Namun jiwaku yang telah terbakar rindu
Belum sembuh jua
Bahkan semakin parah
Bila kami ditakdirkan berjumpa
Akan kugandeng lengannya
Berjalan bertelanjang kaki menuju kesunyian
Sambil memanjatkan doa-doa pujian pada Allah
Ya Raab, telah Kaujadikan Layla
Angan-angan dan harapanku
Hiburlah diriku dengan cahaya matanya
Seperti Kau hiasi dia untukku
Atau, buatlah dia membenciku
Dan keluarganya dengki padaku
Sedang aku akan tetap mencintainya
Meski banyak nian aral melintang
Mereka mencela dan menghina diriku
Dan mengatakan aku hilang ingatan
Sedang Layla sering berdiam diri mengawasi bintang
Menanti kedatanganku
Aduhai, betapa mengherankan
Orang-orang mencela cinta
Dan menganggapnya sebagai penyakit
Yang meluluh-lantakkan dinding ketabahan
Aku berseru pada Singgasana Langit
Berilah kami kebahagiaan dalam cinta
Singkaplah tirai derita
Yang selalu membelenggu kalbu
Bagaimana mungkin aku tidak gila
Bila melihat gadis bermata indah
Yang wajahnya bak mentari pagi bersinar cerah
Menggapai balik bukit, memecah kegelapan malam
Keluargaku berkata
Mengapakah hatimu wahai Majnun?
Mengapa engkau mencintai gadis
Sedang engkau tidak melihat harapan untuk bersanding
dengannya?
Cinta, kasih dan sayang telah menyatu
Mengalir bersama aliran darah di tubuhku
Cinta bukanlah harapan atau ratapan
Walau tiada harapan, aku akan tetap mencintai Layla
Sungguh beruntung orang yang memiliki kekasih
Yang menjadi karib dalam suka maupun duka
Karena Allah akan menghilangkan
Dari kalbu rasa sedih, bingung dan cemas
Aku tak mampu melepas diri
Dari jeratan tali kasih asmara
Karena Surga menciptakan cinta untukku
Dan aku tidak mampu menolaknya
Sampaikan salamku kepada Layla, wahai angin malam
Katakan, aku akan tetap menunggu
Hingga ajal datang menjelang
(Bab IV, hlm. 37-39, situasi ketika Syed Omri (ayah Qays) dari kabilah Bani Amir yang disegani mulai melunak karena melihat penderitaan anaknya. Ia lalu bersedia melamarkan Layla dari Bani Qhatibiah di lembah Nejd. Tapi jawaban ayah Layla membuatnya merasa ditampar dan dilempari kotoran di wajah: Demi Allah, saya tidak menginginkan orang-orang Arab berbicara, saya mengawinkan puteriku dengan pemuda gila. Sejak itu Syed Omri dan para kerabat berusaha merayu dan membujuk Majnun untuk melupakan gadis pujaannya. Majnun dengan amarah meluap mengangkat tangan, merobek-robek pakaian dan mencampakkannya ke tanah. Ia pergi ke padang belantara. Di sana ia menangis tersedu-sedu, airmatanya bercucuran, seluruh jiwanya seolah terbakar. Terbakar karena api cinta, terbakar oleh ketidakberdayaan. Mulutnya tak henti menyebut nama sang kekasih, seperti mantra yang dapat mengurangi rasa sakit.)
Hatiku Telah Terikat oleh Mantra Keindahan
Hatiku telah terikat oleh mantra keindahan, dan cinta
tak dapat dihancurkan.
Ijinkan jiwaku berpisah dengan diriku dan menyatu
dengan jiwanya yang telah menjadi nafasku.
Duhai ayahanda, mengapa engkau berharap aku menghilangkan
cinta tulus yang ada di lubuk hati?
Meskipun aku terbakar seperti lilin, aku tidak akan kecewa
Biarkan aku menuruti panggilan jiwa meskipun cinta telah
membelenggu dan memberi pakaian duri padaku!
Wahai, Ayah, cinta adalah rahmat dari Surga dan menjadi berkah bagi jiwa.
Karena Langit yang menuntunku, maka cintaku pada Layla tulus dan suci
Cinta yang melahirkan angan-angan serta nafsu, adalah cinta
yang bersumber dari bumi.
Cinta seperti itu akan mudah berubah jika apa yang diangan-angankan
tidak sesuai dengan kenyataan.
Cintaku pada Layla tidak bersumber dari bumi, ia menyala
dengan kebenaran Surga dan akan abadi selamanya.
Surgalah yang menuntunku terbang bersama sayap-sayap cinta
Bagaimana mungkin aku akan melepaskan diri, sedang Surga
telah menunjuk dan mengilhamkan cinta padaku
Seseorang Memanggil-manggil Namamu
Seseorang memanggil-manggil namamu saat kami berada
di lereng bukit Mina
Mendengar namamu terguncanglah hatiku karena sedih
Duhai lelaki itu tidak mengetahui betapa suci namamu
Mengapakah ia memanggil nama Layla dengan seenaknya?
Apakah ia tidak tahu dengan menyebut namamu
Berarti ia menerbangkan seekor burung yang telah bersarang di hatiku
Ia memanggil nama Layla
Semoga Allah membukakan kedua matanya
Untuk melihat betapa pesonamu tak mampu dia bayangkan
(Bab IV, hlm. 46-47, dua situasi di atas adalah ketika Syed Omri (ayah Qays) membawa Majnun untuk berziarah ke Makkah, berdoa di Ka’bah atas nasihat tetua kabilah dan para cerdik-cendekia. Si Ayah berkata pada Qays, “Wahai Qays, memohonlah pada kekuasaan Allah, katakanlah Ya Allah lepaskan aku dari Layla dan cintanya.” Tapi doa yang dipanjatkan Qays di dinding Ka’bah membuat hati Syed Omri seperti disayat duri. Ia merasa sia-sia semua ikhtiar yang dilakukan. Jiwa dan cinta anaknya pada Layla tidak bergeming. Dan ini adalah bagian dari ucapan Majnun pada sang ayah saat berada di Mina, juga bait syair sesaat setelah tak sadarkan diri ketika satu peristiwa ada yang berteriak dari kemah “Wahai Layla” dengan seenaknya.)
Aku Menuruni Lembah Wadiyain yang Indah
Aku menuruni lembah Wadiyain yang indah
Sebagai seorang tamu dari penghuninya
Aku akan tetap berada di lembah Wadiyain
Menghirup udaranya yang segar dan airnya yang jernih
Aku tidak akan kembali
Kecuali jika di atas ada yang menanti
Di sini aku tidak seorang diri
Binatang-binatang liar dan buas menjadi sahabatku
Aku tidak akan ragu
Mengapa aku harus ragu
Bila kasih Layla hanya tertuju padaku
Sahabat karib dan kekasihnya
Mengapa aku harus ragu
Jika jiwaku senantiasa mengharapkan Layla
Sungguh, angin telah datang
Membawa pesan Layla
Ia berjanji, meski tidak pernah bersua di dunia
Akan tetap menungguku di pintu surga
Sungguh dunia yang indah akan bermuram durja
Bila engkau tidak pernah berkunjung ke rumah seorang kekasih
Dan tiada seorangpun
Yang dapat menghibur hatimu
(Bab V, hlm. 49-50, situasi ketika Majnun kembali mengembara sepulang berhaji. Ia sampai ke lembah Wadiyain (dua lembah) dan tinggal di sebuah gua. Diceritakan bahwa binatang buas menjadi jinak demi melihat pancaran cahaya cinta di wajah Majnun. Bahkan singa dan serigala menjadi pengiring setia bagi Majnun dan saat tidur mereka menunggu dan menjaga tuannya).
Carilah Layla yang Lain
Banyak orang berkata
Bersenanglah engkau dengan gadis lain
Itu adalah kata pelipur-lara
Namun menjadi duri dalam hatiku
Kukatakan kepada mereka
Dengan air mata berderai
Dan hatiku hancur luluh
Sayap cinta telah memeluk
Dan membawa jiwaku terbang
Aku mencintai Layla
Dan tidak tertarik pada gadis lain
Pandanganku telah tertunduk, dan mata terpejam
Kepada selain Layla
Wahai Layla ulurkanlah tanganmu
Untuk menyambut kasihku
Kalbu penuh asmara
Kuberikan padamu
Mungkin engkau diberi dua cawan minuman
Satu cawan kebencian
Agar engkau melupakan diriku
Sedang cawan yang satu berisi anggur kesenangan
Agar engkau rela menerima pinangan orang lain sebagai gantiku
Duh kekasihku
Kuingatkan dirimu
Jangan rusakkan hubungan
Yang orang lain selalu ingin menyempurnakan
Kelak engkau akan melihat
Beda antara cinta dan vafsu
Wahai Layla, nafsu akan melemahkan hati
Ia akan terus menggoda dan merayu
Namun kelak akan menyesal
Sedih tak berkesudahan
Jiwa yang dipenuhi kebencian
Tak akan pernah menjadi mulia
Ia tak akan puas
Bila yang diharapkan tak didapat
Sedang diriku Layla, Demi Allah
Tali kasih yang telah bersemi
Akan kusiram dan kupupuk
Agar cinta yang engkau berikan tetap terjaga selamanya
Dan aku haramkan atas diriku
Segala yang tidak engkau sukai
Jangan kau biarkan jiwaku hancur karena murkamu
Karena tak sanggup kuterima amarahmu
Sedang gunung pun akan hancur jika engkau marah
Buanglah keraguan dalam dirimu
Karena cinta tidak bisa bersanding dengan keraguan
Aku akan selalu menjaga tali cinta kita
Walau engkau tak di sisiku
Namun aku yakin
Cintamu selalu hadir di hatiku
(Bab V, hlm. 58-59, situasi ketika Majnun rindu kembali menemui ayahnya setelah lama mengembara. Dan ayahnya kembali membujuk agar Majnun mencintai gadis lain yang lebih terhormat. Pecinta hanya hidup dengan cinta, mereka makan dengan roti kasih, minum madu kepedihan dari cawan rindu. Lidahnya dipenuhi oleh kata-kata indah, matanya memandang kelembutan dan pikirannya terbuai desir khayalan dan angan-angan yang indah).
Syair Pujian untuk Layla
I
Bila bulan purnama tenggelam
Atau matahari terlambat terbit
Maka cahaya wajah Layla akan menggantikan sinarnya
Senyumnya bukan hanya berhenti di mulut
Namun menjadi cahaya dari mentari dan sinar purnama seluruhnya
Rembulan dan matahari akan tersipu malu
Karena cahayanya tak sebanding dengan sinar mata Layla
Bila ia berkedip, maka bintang kejora akan menyembunyikan diri
Tidak akan lagi tercipta gadis seperti dia
Dan aku ciptakan hanya untuk dia
Kata-kata pujian yang kuucapkan
Bagai sebutir pasir di gurun sahara
Tak sebanding dengan kecantikannya
Karena segala kata pujian yang dimiliki jin dan manusia
Tak sebanding dengan pesonanya
Dia diberi nikmat, dengan segala kebaikan
Bila ia hendak berjalan ke sebuah bukit
Maka seakan bukit itulah yang akan mendekat padanya
Karena sang bukit tidak ingin melihat gadis itu dihinggapi kelelahan
II
Adakah malam bisa menyatukan diriku dengan Layla?
Atau biarkan angin malam menyebut namanya
Sebagai ganti pesona tubuhnya
Karena sama saja bagiku
Melihat Layla atau menatap purnama
(Bab VI, hlm. 69-70, inilah syair yang dibacakan oleh Ishaq kepada Layla. Syair ini didengar langsung dari mulut Qays ketika dalam perjalanannya ia bertemu di padang pasir bersama binatang buas. Dituturkan bahwa Qays tampak letih dan menderita, namun saat disebut nama Layla, jiwanya kembali bersemangat. dikatakan oleh Ishaq bahwa saat membacakan syair ini, Qays seperti sedang dilanda sakit parah, tubuhnya seolah tidak lagi memiliki tulang sendi, matanya menyiratkan ketakutan dan kekhawatiran).
Bila Kakiku Terperosok, Aku Menyebut Namanya
(Syair gubahan Layla untuk Qays)
Bila kakiku terperosok, aku menyebut namanya
Aku bermimpi dalam tidurku hidup bersama dia
Apabila disebut nama Qays
Hilanglah kekuatan jiwaku
Hatiku seperti sirna ditelan namanya
Demi Allah, hampir saja aku gila karena memikirkannya
Dadaku sesak karena rindu
Kaumku mengancam
Jika Qays tidak berhenti menyebut namaku
Maka darahnya akan tumpah membasahi bumi
Bunuhlah aku dan biarkan Qays
Setelah nyawaku melayang, janganlah kalian hina ia
Cukup apa yang ia derita karena cinta
Mungkin ia akan menuduhku tidak setia dengan janji
Dan aku tidak mampu mencegahnya
Kucampur tinta dengan airmataku
Untuk menulis surat padanya
Inilah saat perpisahan bagi orang
Yang akan kukurbankan jiwaku untuknya
Aku khawatir jika ajalku tiba
Tak dapat memandang wajahnya
(Bab VI, hlm. 71-72, inilah syair dari Layla setelah Ishaq menyakini cinta Layla kepada Qays: “Adakah anda bisa membacakan syair untuknya?” Ishaq, lelaki itu, kemudian berjanji akan menyampaikannya kepada Qays).
Jiwa Orang yang Dimabuk Cinta
Jiwa orang yang dimabuk cinta
Akan merasa sakit karena rindu
Sebab pecinta ingin selalu bersama
Tapi halangan tiada ada henti-henti
Pecinta seperti dua ekor kijang di bukit tandus
Walau tiada makanan, tetapi mereka tetap bersama
Atau seperti burung merpati
Walau terbang bebas di angkasa luas
Tetap saja kembali pada kekasihnya
Atau laksana ikan tuna
Tetap tabah walau dipermainkan ombak
Timbul-tenggelam di laut
Walau selalu dicaci dan dicela
Batin menjerit tubuh binasa
Meski lapar dan disia-siakan
Namun jiwa pecinta akan selalu memaafkan
Sebab pecinta tidak membutuhkan pujian
Dan pengorbanan pecinta tidak akan sia-sia
Kulihat bintang kutub dan bintang kejora
Demikian pula cinta
Sekecil apapun, cinta tetap berkuasa di singgasana hati
Dan bagi pecinta
Kebahagiaan dan kesedihan sama indahnya
Karena cinta sejati tidak mengenal kesia-siaan
Jiwaku dan jiwa Layla akan tetap bersama
Andaipun tidak di dunia
Pasti jiwa kami akan bersatu di liang lahat
Dan kelak akan dibangkitkan bersama
Hingga dapat bersatu selama-lamanya
Mataku berkurban utnuk Layla dengan segenap curahan airmata
Berharap liang lahatmu adalah liang lahatku
Agar jenazah kita bersatu
(Bab X, hlm. 104-105, syair lain Qays untuk Layla saat di gua kotor di lembah Wadiyain).
Madah dari Surga
Apakah yang sedang mengalir dalam jiwaku ini?
Siapakah yang sedang memandangku?
Apakah ia kecantikan bunga mawar?
Wahai bunga mawar itu telah dicabut dari taman hatiku
Untuk menjadi penghias taman yang lain
Namun tidak mungkin menjadi layu
Wahai Layla, aku telah dimabukkan oleh rasa cinta
Mana mungkin aku menolak kenikmatan ini
Duduklah di rumpun palem itu, Layla
Agar dapat kunikmati manisnya anggur cintamu
Wahai, ke manakah engkau saat aku merana, terusir dan
kehilangan dirimu?
Hidup hanya menjalar sesaat di uratku dan kemudian
bukan milikku lagi
Tetapi menjadi milikmu
Sejak harapan tidak tersenyum lagi padaku
Aku hanya bisa meratap
Mengenang dan menyesali masa lalu
Aku berteman derita dan hinaan
Kedukaan tersenyum padaku dan aku tersenyum padanya
Sedang kedukaan membuat engkau ketakutan
Padahal engkau yang telah menciptakannya
Diriku selalu diliputi kesengsaraan
Sementara engkau mereguk kebahagiaan
Saat pikiranku hanyut dalam pesona wajahmu yang memabukkan
Engkau pergi tanpa mengucapkan salam
Wahai Surga! Biarkan kematian menjauhkan kami!
Kami adalah dua tubuh namun satu hati
Seperti awan musim panas dengan hujan di padang rumput
Biarkan aku hanyut dalam kesedihan
Asal jangan biarkan cinta Layla hilang dari jiwaku
Wahai Layla
Mungkin sebentar lagi kematian akan menjemput
Dunia akan menulis riwayatku
Mereka akan mengatakan telah kukorbankan diri demi
rembulan indah
dengan cahaya keperakan
Ia yang telah mengubah malam menjadi mempesona
Ingatkah engkau wahai Layla, saat kita bermain
bersama, mereguk anggur kebahagiaan?
Engkau dengan mata hitam yang indah, memandang
penuh cinta padaku
Dan bibir itu! Akh, aku melihat anggur cinta di sana
Aku melihat betapa bahagia kita berdua!
Tiada seorang pun yang mampu memisahkan kita
Rasa malu dan ketakutan tidak mampu menghancurkan
bunga cinta kita
Kebahagiaan tak terlihat, di kuil pengasingan itu
Tapi bawakan aku anggur!
Biarkan aku mabuk!
Jauhkan kesedihan dari diriku!
Rumah tanpa penerangan adalah penjara
Karena penjara benci dengan cahaya.
Tempat yang cocok untuk hati yang patah
Dan tenggelam dalam kesuraman seperti diriku
Adalah kamar bawah tanah yang jauh dari cahaya
Ya Allah!
Selamatkan aku dari kegelapan yang tiada akhir ini!
Berikan aku satu hari saja kesenangan – satu peristiwa menyenangkan!
(Bab XVII, hlm. 154-156, ini kalimat sebelum syair ini ditulis: Menyaksikan pancaran kasih dari mata Layla, seketika mengalir dari bibir Majnun syair-syair indah, seolah madah dari surga. Maka saya kasih judullah syair ini dengan judul Madah dari Surga).
Kesengsaraan itu Milikku
Kesengsaraan itu milikku
Kesedihan telah menyatu dalam jiwaku
Kenangan tentang bibir yang begitu manis
Telah membelenggu lidahku untuk mengungkapkan pesonanya
Saat sayap cintaku terluka dan tidak dapat terbang
Burung indah mempesona yang telah lama aku cari
datang di hadapanku
Sesungguhnya, engkau merangkai pesona bidadari
Dan apalah artinya diriku?
Aku tidak mengetahui apapun selain bayanganmu.
Tanpa engkau aku tiada
Khayalan telah menyatukan kita berdua
Kita melebur menjadi satu
Menyatu dalam ketetapan cinta
Kita adalah dua tubuh dengan hati yang satu dan jiwa yang sama
Dua lilin dengan satu nyala api murni, semurni surga
Dari bentuk-bentuk yang sama
Digabung menjadi satu
Dua titik menjadi satu
Tiap jiwa mendukung satu sama lain
(Bab XIX, hlm. 167, syair terakhir, situasi pertemuan terakhir antara Qays dengan Layla. Layla telah bebas dari perkawinan Ibnu Salam. Sebuah perkawinan yang menimbulkan kemarahan terpendam di pihak laki-laki karena Layla tetap dalam kesuciannya. Ibnu Salam meninggal. Dikatakan bahwa getaran kemarahan telah merenggut kehidupannya. Namun ternyata, dalam keadaan di mana tidak ada lagi yang menghalangi cinta mereka, Qays malah pergi. Batin Qays dikatakan tidak siap menerima kebahagiaan yang demikian besar. Sesaat setelah menatap Layla dengan senyum yang mengerikan, ia merobek baju yang dikenakan dan dengan kekuatan yang melebihi kekuatan biasa, Majnun berlari ke gurun luas. Meski begitu, cinta Layla pada pemuda itu tidak pernah sirna. Namun ia merasa cahaya kehidupannya mulai surut dan kesedihannya menjadi-jadi. Ia pun meninggal dengan membawa mati cintanya. Adapun Majnun, seketika tahu meninggalnya sang kekasih, meratap di kuburan Layla hingga tubuhnya lemah. Ia pun meninggal dengan ditunggui oleh binatang-binatang liar temannya. Diceritakan bahwa binatang-binatang itu baru menyadari kematian tuannya setelah tubuh Majnun hanya menyisakan tulang berserakan. Berita kematian Majnun dibawa oleh pengelana yang kebetulan lewat. Dan orang-orang pun menguburkannya di samping makam Layla).
Telah engaku labuhkan mahligai cintai di hatiku
Maka jadikan cinta ini sebagai penawar gersang kehidupanku
Telah Engkau tanam benih cinta di kalbuku
Maka jadikan bunga – bunga cinta sebagai penghias kisahku
Ku titipkan cinta ini
Hiasilah dengan keimanan
Perindahlah dengan ketakwaan
Kuatkanlah dengan kepasrahan
Dan wujudkanlah dengan ikatan yang Engkau Ridhai
Jika cinta ini mengantarku pada derajat kekasihMu
Maka jaga cinta ini agar tetap pada Ridhamu
Jika cinta ini menjadi mahar cintaku padaMu
Maka mulikanlah cinta kami dengan kesetiaan
Kabulkanlah impian cinta kami
Persatukan kami dalam indahnya pernikahan
Agar kami setia hingga sampai ke syurga
Kau fitrahkan pada kami akan sebuah rasa
Cinta dan sayang yang merengkuh kami berdua
Tak dapat ku tepiskan semua
Tak dapat pula kumunafikan adanya
Cinta ini hadir atas kehendak-MU
Sayang ini tumbuh atas kuasa-MU
Tak berdaya kala rindu melanda
Lindungilah hati kami berdua
Dari godaan yang datang menerpa
Janganlah membutakan mata
Jangan pula menulikan telinga
Dari berpaling ke fatamorgana dunia
Aku tidaklah semulia Khadijah
Tidak pula setaqwa Aisyah
Dan mungkin tak setabah Fatimah
Apalagi secantik Zulaikha
Tak perlulah dia setampan Nabi Yusuf
Juga berharta seluas berbendaharaan Nabi Sulaiman
Atau kekuasaan seluas Kerajaan Nabi Muhammad
Yang mampu mendebarkan hati jutaan wanita
Untuk dapat membuatku terpikat
Yang memiliki dan menguasai seluruh alam
Jaga cinta ini dalam naungan-MU
Hanya ridho dari harap pada-MU
Cintakanlah kami atas dasar Cinta-MU
Hadirku kan menguatkan cintanya pada-MU
Hadirnya jua kuatkan cintaku pada-MU
Agar bersama kami berjalan menuju jalan-MU
dimanapun engkau mengorbit, GPS dihatiku kan selalu menemukanmu
kan selalu ku update cintaku didinding hatimu,
postinganmu adalah inspirasiku, selalu ku tunggu PM darimu..
applaud for you..
pak guru bilang, aq musti rajin belajar agar bisa mendapat perhatian dari mu..
wak haji bilang, aq musti kudu sering k mesjid agar bisa mendapat simpati darimu..
mbah dukun bilang, aq musti mandi kembang 7 rupa utk menakhlukkan hatimu..
rekan2 forsat bilang, aq musti masuk ketread 'ini' agar punya jurus utk merayumu..
hiaaaaaat hiaaaaaat hiaaaaaat
tak dinyana..!!!!!!
satu kata CINTA saja ternyata sudah cukup bagi q utk meluluhkan hatimu
Jemarimu begitu cantik, hatiku tergelitik..
Seperti ada kupu-kupu menari dalam dadaku..
Jika pelukan adalah daun, aku akan kirimkan pohon.
Jika cinta itu abadi, kutawarkan keabadian cintaku padamu!
Kutuliskan namamu di laut, badai membawanya.
Kutuliskan namamu di hatiku, cinta namanya.
30 hari dalam sebulan,
7 hari dalam seminggu,
60 detik dalam satu jam.
Tapi hanya ada kamu seorang sepanjang hidupku.
Dalam benak para ahli ada formula kimia, teori dan rumus.
Di dalam benakku, hanya ada kamu!
Tapi pikiran itu sekejap hilang sejak aku melihatmu.
Lagu dimulai dengan do re mi.
Cinta dimulai dengan aku dan kamu
Semuanya kuseberangi demi cintaku padamu, sudahkah kamu menerimanya?
Kehabisan Baterai.
Kehabisan Pulsa.
Tapi cintaku ini takkan pernah habis untukmu.
Graham Bell itu bodoh!
Yang satu detektif, yang satu penemu telepon.
Tapi tak seorangpun yang menemukanmu selain aku. Aku jenius ya!
Dan kamu juga lupa namaku Kamu boleh memanggil aku milikmu kok
1. aku
2. kamu
3. kita
4. cinta
Tapi jangan di hatiku ya, karena di situ kamu berada
Kuminta setetes air diberi-NYA lautan.
Kuminta malaikat diberi-NYA kamu!
Kamu pasti lelah karena kamu selalu berlari di pikiranku.
Tapi aku kangen kamu
a. Sibuk
b. Lagi Nyetir
c. Lupa
d. kamu pengen aku kangenin kamu ya?
Aku menjawabnya, karena tidak ada alasan untuk tidak mencintai dia
Jadi kalau kamu nggak bisa , boleh nggak sih aku menemani kamu?
kalau besok gimana?
besok lusa?
besoknya besok lusa?
gimana kalau selamanya?
Kamu tersenyum, aku buang muka.
Kamu bilang cinta, aku nggak suka.
Tapi kalau kamu bilang selamat tinggal, aku kehilangan.
Lebih manis kalau jadi cinta.
Tapi yang paling manis kalau itu adalah kamu.
Aku nggak janji bikin kamu ketawa,
tapi aku janji aku akan menangis bersamamu.
Saat menyentuhmu, aku takut menciummu.
Saat menciummu, aku takut mencintaimu.
Saat mencintaimu, aku takut kehilanganmu.
Andai aku jadi tempat tidur, biar kau berbaring.
Andai aku jadi selimut, akan kupeluk kau erat.
karena kamu manis,
kamu baik,
kamu cakep deh,
dan kamu belum SMS-in aku!
_
Tak kan pernah ku putar haluan
jika rasa kerinduan ini memang
hanya untukmu .
ketika suatu saat nanti perjalananku
telah usai ku tempuh dan bersandar
di dermaga hatimu .
Sayangku ....!
Lihatlah temaram senyum jingga
nun jauh di sana .
ia telah melambaikan hangat sapaku
untukmu yang selalu kusenandungkan
ketika gurat senja hadir menyapa .
Ada melodi indah dan sajak aksaraku
yang selalu ku simpan di dalam hatimu
hingga di sini mampu ku rasakan
getar keindahanya yang sempurna .
Ada kenangan yang selalu indah
dan membayang di pelupuk netra ini
ketika mengingat sedih rasaku hanya
ku mampu peluk bayanganmu saat ini .
Ada cerita yang tiada pernah pudar
karna di sana telah kuukir dengan
darah dan airmata seperti hatiku yang tiada mampu ku menjauh darimu .
Sayang ...!
Tunggulah hadirku dalam timang malam
ketika hawa rindu itu datang
dan menyemai di pucuk mimpi
pelukan terindah kita nanti
dan aku pasti kan datang dan bersandar
hangat dalam dermaga kasihmu .
Harianku Terluka _
entah ...!
gelisah ini hinggap di benakku
menjalar perlahan dengan jeritan
menjerat jiwaku dengan dusta .
adalah sebuah malam
yang setia membagikan duka
ketika keresahan selalu hadir
dalam kerapuhan diriku .
ujung sunyi kian menari
kukecap dengan sendiri
kunikmati tanpa mimpi
semua bagai berlari
anganku terganti luka hati .
Januari telah berlalu
namun sisa_sisa sedih dan pilu masih jua
melekat di dalam dinding hatiku .
entahlah ...
mengapa kenangan yang indah
tak jua kau mengingatnya untukku
hanya sebait sesalmu yang kau
hadirkan dalam sapa ungkap hatimu .
Namun ....!
Akan kuterima semua nasib jiwa ini
karna aku sadar memang tak kan
pernah mampu bahagiakan dirimu
seperti apa yang kau mau dariku .
Senja ini terlukis sudah
sebait kata aroma yang tertiup
nyiur gugur dalam hembusan
sang bayu ,kaua torehkan ingatanku
untuk sebuah rasa kesakitan
yang telah meretakan cerita kita .
Sayangku ...
aku tak kan memulai untuk sebuah
pertikaian ego yang hanya membuat
lemahnya pikiran hati kita .
_ Kau undang aku dalam kesedihan
isak yang menyemai di ujung mimpi
ketika hening telah kusingahi
tentang ceritamu dengan
nyanyian kisah pilu .
_ Denting sayup kian menyemai
pada semilir sajak sunyiku di sini saat
ilalang lengang terdiam
dengan tunduk duduk menari
menyua bahasa hati .
_ Kaukah cerita itu dengan terbata
ungkapkan secuil kisah lama
pada daun malam yang kian
lepas dari ranting karna mendengar
isak sedihmu di malam ini .
_ Harap tersenyumlah
sambut purnama yang bersinar
sajikan senyum sapamu di sana
agar luka dan cerita usang
mampu tertawa karna hadirmu
telah kunanti dengan bisik mimpikiu di sini .
BAYANG
Oleh Kahlil Gibran
Setiap langkah ku ada dia..
Mengikuti di belakang punggungnya. .
Gelap dan tak terlihat..
Kasat mata..
Terdiam kala banyak yang membicarakannya. .
Seakan tak seorang pun memandang kearah ku..
Sibuk mengagumi pesonanya..
Sibuk meminta senyumannya. .
Akulah sang tak terlihat..
Saat dia berada di dekat ku..
Akulah sang gelap..
Dibalik wajah cerah nya..
Akulah sang kasat mata..
Ada namun seakan tak ada..
Akulah sang bayang..
Sesuatu yang tak dianggap ada..
menunggu
Hari terhitung minggu
Minggu pun menjadi bulan..
Pagi ku mengingat mu
Malam ku mengenangmu
Tetap saja semua sama
Sejak kau pergi..
Ku masih saja menanti mu
Hingga kau kembali
Dan takkan tinggalkan ku lagi..
Entah kapan..
Menunggu mu masih..
Setia tetap ku janji..
Hingga ku dapat kau kembali..
Bersama jalani hari..
CINTA SETUBUH PADAS
Oleh Kahlil Gibran
Cinta setubuh padas!
Bergelang waktu menggoda
sesal anak rahim di kandung celaka.
Mengunci tabir di buih-buih selaksa doa.
Mungkin karunia itu berakhir patah, atau
sekedar mengusap lempeng cumbu
bertahta angin! Dan cinta kian
menitik air mata di seanyam arang,
mantra hati menyusut di susuk semangat.
“Kembalikanlah amarahku; oh, cermin sangga!”
Lembut suara angannya mengelus padas,
agar memeluk kerat penguak duri
percintaan bersanding ajal.
Keadilan Cinta
ketika hati melangkah
ketika hasrat menggema
ketika rasa bergetar
saat itu daya tak kuasa
menemukan kekasih hati
Dimanakah posisi cinta
dikala hati menginginkannya
apakah cinta hanya sebuah pelampiasan
dari hasrat diri
dimanakah rasa
dikala posisi cinta bergeser
Cinta,
adakah cinta untukku
apakah cinta bisa berbuat adil
Entahlah...
dayaku tak kuasa lagi untuk menemukan cinta
7 ALASAN MENCELA DIRIMU
Oleh Kahlil Gibran
Tujuh kali aku pernah mencela jiwaku,
pertama kali ketika aku melihatnya lemah,
padahal seharusnya ia bisa kuat.
Kedua kali ketika melihatnya berjalan terjongket-jongket
dihadapan orang yang lumpuh
Ketiga kali ketika berhadapan dengan pilihan yang sulit dan mudah
ia memilih yang mudah
Keempat kalinya, ketika ia melakukan kesalahan dan cuba menghibur diri
dengan mengatakan bahawa semua orang juga melakukan kesalahan
Kelima kali, ia menghindar kerana takut, lalu mengatakannya sebagai sabar
Keenam kali, ketika ia mengejek kepada seraut wajah buruk
padahal ia tahu, bahawa wajah itu adalah salah satu topeng yang sering ia pakai
Dan ketujuh, ketika ia menyanyikan lagu pujian dan menganggap itu sebagai suatu yang bermanfaat
ANTARA PAGI DAN MALAM HARI
Oleh Kahlil Gibran
TENANGLAH hatiku, kerana langit tak pun mendengari
Tenanglah, kerana bumi dibebani dengan ratapan kesedihan.
Dia takkan melahirkan melodi dan nyanyianmu.
Tenanglah, kerana roh-roh malam tak menghiraukan bisikan rahsiamu, dan bayang-bayang tak berhenti dihadapan mimpi-mimpi.
Tenanglah, hatiku. Tenanglah hingga fajar tiba, kerana dia yang menanti pagi dengan sabar akan menyambut pagi dengan kekuatan. Dia yang mencintai cahaya, dicintai cahaya.
Tenanglah hatiku, dan dengarkan ucapanku.
DALAM mimpi aku melihat seekor murai menyanyi saat dia terbang di atas kawah gunung berapi yang meletus.
Kulihat sekuntum bunga Lili menyembulkan kelopaknya di balik salju.
Kulihat seorang bidadari te***jang menari-menari di antara batu-batu kubur.
Kulihat seorang anak tertawa sambil bermain dengan tengkorak-tengkorak.
Kulihat semua makhluk ini dalam sebuah mimpi. Ketika aku terjaga dan memandang sekelilingku, kulihat gunung berapi memuntahkan nyala api, tapi tak kudengar murai bernyanyi, juga tak kulihat dia terbang.
Kulihat langit menaburkan salju di atas padang dan lembah, dilapisi warna putih mayat dari bunga lili yang membeku.
Kulihat kuburan-kuburan, berderet-deret, tegak di hadapan zaman-zaman yang tenang. Tapi tak satu pun kulihat di sana yang bergoyang dalam tarian, juga tidak yang tertunduk dalam doa.
Saat terjaga, kulihat kesedihan dan kepedihan; ke manakah perginya kegembiraan dan kesenangan impian?
Mengapa keindahan mimpi lenyap, dan bagaimana gambaran-gambarannya menghilang? Bagaimana mungkin jiwa tertahan sampai sang tidur membawa kembali roh-roh dari hasrat dan harapannya?
DENGARLAH hatiku, dan dengarlah ucapanku.
Semalam jiwaku adalah sebatang pohon yang kukuh dan tua, menghunjam akar-akarnya ke dasar bumi dan cabang-cabangnya mencekau ke arah yang tak terhingga.
Jiwaku berbunga di musim bunga, memikul buah pada musim panas. Pada musim gugur kukumpulkan buahnya di mangkuk perak dan kuletakkannya di tengah jalan. Orang-orang yang lalu lalang mengambil dan memakannya, serta meneruskan perjalanan mereka.
KALA musim gugur berlalu dan gita pujinya bertukar menjadi lagu kematian dan ratapan, kudapati semua orang telah meninggalkan diriku kecuali satu-satunya buah di talam perak.
Kuambil ia dan memakannya, dan merasakan pahitnya bagai kayu gaharu, masam bak anggur hijau.
Aku berbicara dalam hati,"Bencana bagiku, kerana telah kutempatkan sebentuk laknat di dalam mulut orang-orang itu, dan permusuhan dalam perutnya.
" Apa yang telah kaulakukan, jiwaku, dengan kemanisan akar-akarmu itu yang telah meresap dari usus besar bumi, dengan wangian daun-daunmu yang telah meneguk cahaya matahari?"
Lalu kucabut pohon jiwaku yang kukuh dan tua.
Kucabut akarnya dari tanah liat yang di dalamnya dia telah bertunas dan tumbuh dengan subur. Kucabut akar dari masa lampaunya, menanggalkan kenangan seribu musim bunga dan seribu musim gugur.
Dan kutanam sekali lagi pohon jiwaku di tempat lain.
Kutanam dia di padang yang tempatnya jauh dari jalan-jalan waktu. Kulewatkan malam dengan terjaga di sisinya, sambil berkata,"Mengamati bersama malam yang membawa kita mendekati kerlipan bintang."
Aku memberinya minum dengan darah dan airmataku, sambil berkata,"Terdapat sebentuk keharuman dalam darah, dan dalam airmata sebentuk kemanisan."
Tatkala musim bunga tiba, jiwaku berbunga sekali lagi.
PADA musim panas jiwaku menyandang buah. Tatkala musim gugur tiba, kukumpulkan buah-buahnya yang matang di talam emas dan kuletakkan di tengah jalan. Orang-orang melintas, satu demi satu atau dalam kelompok-kelompok, tapi tak satu pun menghulurkan tangannya untuk mengambil bahagiannya.
Lalu kuambil sebuah dan memakannya, merasakan manisnya bagai madu pilihan, lazat seperti musim bunga dari syurga, sangat menyenangkan laksana anggur Babylon, wangi bak wangi-wangian dari melati.
Aku menjerit,"Orang-orang tak menginginkan rahmat pada mulutnya atau kebenaran dalam usus mereka, kerana rahmat adalah puteri airmata dan kebenaran putera darah!"
Lalu aku beralih dan duduk di bawah bayangan pohon sunyi jiwaku di sebuah padang yang tempatnya jauh dari jalan waktu.
TENANGLAH, hatiku, hingga fajar tiba.
Tenanglah, kerana langit menghembus bau hamis kematian dan tak bisa meminum nafasmu.
Dengarkan, hatiku, dan dengarkan aku bicara.
Semalam fikiranku adalah kapal yang terumbang-ambing oleh gelombang laut dan digerakkan oleh angin dari pantai ke pantai
Kapal fikiranku kosong kecuali untuk tujuh cawan yang dilimpahi dengan warna-warna, gemilang berwarna-warni.
Sang waktu datang kala aku merasa jemu terapung-apungan di atas permukaan laut dan berkata,
"Aku akan kembali ke kapal kosong fikiranku menuju pelabuhan kota tempat aku dilahirkan."
Tatkala kerjaku selesai, kapal fikiranku
Aku mulai mengecat sisi-sisi kapalku dengan warna-warni - kuning matahari terbenam, hijau musim bunga baru, biru kubah langit, merah senjakala yang menjadi kecil. Pada layar dan kemudinya kuukirkan susuk-susuk menakjubkan, menyenangkan mata dan menyenangkan penglihatan.
Tatkala kerjaku selesai, kapal fikiranku laksana pandangan luas seorang nabi, berputar dalam ketidakterbatasan laut dan langit. Kumasuki pelabuhan kotaku, dan orang muncul menemuiku dengan pujian dan rasa terima kasih. Mereka membawaku ke dalam kota, memukul gendang dan meniup seruling.
Ini mereka lakukan kerana bahagian luar kapalku yang dihias dengan cemerlang, tapi tak seorang pun masuk ke dalam kapal fikiranku.
Tak seorang pun bertanya apakah yang kubawa dari seberang lautan
Tak seorang pun tahu kenapa aku kembali dengan kapal kosongku ke pelabuhan.
Lalu kepada diriku sendiri, aku berkata,"Aku telah menyesatkan orang-orang, dan dengan tujuh cawan warna telah kudustai mata mereka"
Setelah setahun aku menaiki kapal fikiranku dan kulayari di laut untuk kedua kalinya.
Aku berlayar menuju pulau-pulau timur, dan mengisi kapalku dengan dupa dan kemenyan, pohon gaharu dan kayu cendana.
Aku berlayar menuju pulau-pulau barat, dan membawa bijih emas dan gading, batu merah delima dan zamrud, dan sulaman serta pakaian warna merah lembayung.
Dari pulau-pulau selatan aku kembali dengan rantai dan pedang tajam, tombak-tombak panjang, serta beraneka jenis senjata.
Aku mengisi kapal fikiranku dengan harta benda dan barang-barang lhasil bumi dan kembali ke pelabuhan kotaku, sambil berkata, "Orang-orangku pasti akan memujiku, memang sudah pastinya. Mereka akan menggendongku ke dalam kota sambil menyanyi dan meniup trompet"
Tapi ketika aku tiba di pelabuhan, tak seorangpun keluar menemuiku. Ketika kumasuki jalan-jalan kota, tak seorang pun memerhatikan diriku.
Aku berdiri di alun-alun sambil mengutuk pada orang-orang bahawa aku membawa buah dan kekayaan bumi. Mereka memandangku, mulutnya penuh tawa, cemuhan pada wajah mereka. Lalu mereka berpaling dariku.
Aku kembali ke pelabuhan, kesal dan bingung. Tak lama kemudian aku melihat kapalku. Maka aku melihat perjuangan dan harapan dari perjalananku yang menghalangi perhatianku. Aku menjerit.
Gelombang laut telah mencuri cat dari sisi-sisi kapalku, tak meninggalkan apa pun kecuali tulang belulang yang bertaburan.
Angin, badai dan terik matahari telah menghapus lukisan-lukisan dari layar, memudarkan ia seperti pakaian berwarna kelabu dan usang.
Kukumpulkan barang-barang hasil dan kekayaan bumi ke dalam sebuah perahu yang terapung di atas permukaan air. Aku kembali ke orang-orangku, tapi mereka menolak diriku kerana mata mereka hanya melihat bahagian luar.
Pada saat itu kutinggalkan kapal fikiranku dan pergi ke kota kematian. Aku duduk di antara kuburan-kuburan yang bercat kapur, merenungkan rahsia-rahsianya.
TENANGLAH, hatiku, hingga fajar tiba.
Tenanglah, meskipun prahara yang mengamuk mencerca bisikan-bisikan batinmu, dan gua-gua lembah takkan menggemakan bunyi suaramu.
Tenanglah, hatiku, hingga fajar tiba. Kerana dia yang menantikan dengan sabar hingga fajar, pagi hari akan memeluknya dengan semangat.
NUN di sana! Fajar merekah, hatiku. Bicaralah, jika kau mampu bicara!
Itulah arak-arakan sang fajar, hatiku! Akankah hening malam melumpuhkan kedalaman hatimu yang menyanyi menyambut fajar?
Lihatlah kawanan merpati dan burung murai melayang di atas lembah. Akankah kengerian malam menghalangi engkau untuk menduduki sayap bersama mereka?
Para pengembala memandu kawanan dombanya dari tempat ternak dan kandang.
Akankah roh-roh malam menghalangimu untuk mengikuti mereka ke padang rumput hijau?
Anak lelaki dan perempuan bergegas menuju kebun anggur. Kenapa kau tak berganjak dan berjalan bersama mereka?
Bangkitlah, hatiku, bangkit dan berjalan bersama fajar, kerana malam telah berlalu. Ketakutan malam lenyap bersama mimpi gelapnya.
Bangkitlah, hatiku, dan lantangkan suaramu dalam nyanyian, kerana hanya anak-anak kegelapan yang gagal menyatu ke dalam nyanyian sang fajar.
Pagi itu dalam kuda putih kami bertiga menuju Banda menjemput kakanda,
pembicaraan hangat keluar tanpa batasan jabatan dan usia,
menempuh jalan yang padat dengan kendaraan yang berlalu-lalang dengan kepentingan yang beda,
kami mesti cepat untuk sampai ke tujuan tepat waktu.
Tawa dan canda yang terjadi dalam perjalanan sangat akrab,
rasanya tidak akan sama dengan perjalanan kami
Terasa penat dan berat untuk mengeluarkan pendapat,
Buyar begitu hanya terpintas pada waktu yang tidak menentu,
Perjuangan hidup memang tidak ada yang sama tapi usaha keras
diwajibkan,
Siapa saja yang tidak pernah bosan dengan pekerjaannya,
Maka kemenangan menyertai mereka.
Setiap langkah yang akan kita lakukan,
Syaitan di depan mencoba mengarahkan ,
Tergantung kita dhalim dan kebaikan
Jalanan terasa sesak setiap malam minggu menjelma,
sepertinya aspal hitam sangat berat menampung beban roda dua,tiga dan empat,
di setiap sudut kota ada keluarga tertawa ria sambil bercengkrama,
ada juga sepasang insan di pojok kegelapan tanpa ada larangan.
Kehidupan malam di kota lhokseumawe sangat menguntungkan,
perputaran keuangan sangat mendukung pedagang pinggiran,
di sisi lain
Keramaian selalu menjadi pendamping dalam menjalani aktifitas,
Sepertinya aku tidak akan bisa berpisah dari lalu-lalangnya mereka,
Tempat yang menjadi pojok adalah kesukaan ku,
sedangkan teman-teman ku tahu keberadaan ku di waktu pagi, petang
begitu juga malam.
Terkadang aku menginginkan sesuatu yang baru,
Dunia baru yang diluar sana menjanjikan, tapi banyak kendala yang harus
ku
Aku tau engkau kesal bahkan marah dengan sikap ku,
aku tau engkau lelah dan terbeban dengan tanggungjawab,
introspeksi telah aku jalankan tapi masih sangat jauh dari harapan,
maafkan aku jika belum bisa membawa mu ke bahtera kebahagiaan dan ketenangan.
Berusaha untuk menerima kekurangan mu adalah ibadah ku,
namun syaitan jua selalu berlomba dengan ku,
kehidupan ku yang dulu menjadi
Bersantai sejenak dengan air hitam dalam gelas kecil menjadi kebiasaan yang indah,
bercengkrama dengan teman-teman dekat adalah silaturrahmi agama,
namun, perkumpulan tersebut tidak semuanya baik,
jika mulut menebar fitnah maka dosa pun tertawa riang,
seandainya kebajikan yang dibicarakan maka pahalanya tiada terkira.
Di warkop pojok jalan tersebut kami berkumpul,
tidak ada lain hanya
Badan ku kaku lemas tak berdaya,
bergerak pun tidak jauh dari rumah mencari keramaian dunia,
terletak disudut dengan segelas kopi berusaha menulis puisi meskipun lemas tak kunjung hilang,
sepertinya raga ku ini sudah tidak kuat dengan beban kerja yang berat,
berlalu lalang lhokseumawe - matang sudah tidak mungkin lagi seperti lima tahun yang silam,
tubuh ku ini sudah kurang kuat
Menyiarkan agama dengan cara doa dan usaha,
perlu pengorbanan waktu, pikiran dan keikhlasan sepenuh jiwa dan raga,
perjuangan yang sedang berjalan membentuk kami untuk tetap kuat dan terus berjuang,
gedung megah itu sudah ada tapi sayang belum di huni oleh pemilik yang layak,
program sudah termaktub namun Allah masih berkehendak hal yang lain.
Ma'had itu harus berjalan dan besar
Tanggungjawab sahabat semua rutinitas,
Keahlian dan tenaga sebagai mesin penyempurna,
Pekerjaan merupakan bunga-bunga kehidupan,
Masa yang berlalu tidak terasa dengan kelalaian tugas dan kerja,
Coba saja ukur dan pikir apa yang telah kita berikan kepada dunia?
Untuk generasi kita selanjutnya?Untuk anak cucu dan keluarga???
Memelihara amanah bentuk kecil darinya,
Menjalankan amanah
Kemuliaanku bukan apa yang di nilai oleh orang,
kemuliaanku bukan kemegahan dunia,
kemuliaanku bukan kehormatan dan jabatan,
kemuliaanku adalah ketenangan jiwa dekat dengan RABBI,
Aku merasa serba kekurangan dalam mendidik mereka,
Umur ku yang sudah setengah abad tidak cukup untuk menjelaskan,
Belajar membaca bukanlah masalah usia,
Tapi halangan dan rintangan yang ada dalam
Kesopanan mengalahkan jabatan dan wibawa,
persahabatan berjalan bak air berlalu tanpa adanya perbedaan,
kelembutan kata dan bahasa menarik kita untuk berkorban,
meskipun itu tanpa pamrih tetap ikhlas kita jalankan.
Indahnya kata pertolongan tidak bisa di ukur dengan harta,
siapapun akan terkapar bila mendengar kata itu,
kemarahan akan reda begitu juga pangkat akan di kesampingkan.
Banjir datang menyapa tatkala rindunya tak tertahankan,
berganti hari ke minggu datangnya bulan dia datang membasahi bumi,
dia tidak salah namun kita harus berbenah,
menghadapinya bukan dengan melawan tapi mencegah dengan mencintai alam.
Musibah itu tidak akan datang tanpa undangan,
kita lah yang memanggilnya untuk memberi salam,
duka dan lara kita rasakan bagaikan tidak berdosa,
Puisi ini merupakan salah satu kisah keputusan sikap ku terhadap pekerjaan yang telah kujalani, namun dalam pertengahan ada pula pekerjaan baru yang memang tidak terlalu banyak menghasilkan uang saku, tapi kedekatan diri dengan Tuhan disertai ketenangan dalam pekerjaan baru ini jelas dan nyata.
Keputusan salah satu wujud kesuksesan untuk meraih karir yang baik,
Meskipun mereka
Indahnya kenangan yang telah berlalu meskipun tidak akan pernah
kembali,
Indahnya masa kecil terlalu singkat aku jalankan
Indahnya masa itu tidak akan pernah membuatku bosan dan murka,
Masa indah itu akan selalu ku bawa sampai akhir hayat ku.
Indahnya bersama keluarga menghantuiku di setiap waktu,
Hari dimana kakak beradik bergurau dan bercanda di atas meja penuh
hidangan,
Ada kala
Amarahku tak terkendali dengan sikapnya yang tidak berubah,
Tidak melihat waktu dan rasa langsung saja menugaskan tugas baru,
Manusia memiliki jenuh dan lelah dalam bertindak,
Jadi berhati-hatilah dengan perintah mulut mu.
Apakah kamu tidak bisa mengerti dengan kesibukan yang ku jalani,
kita sama-sama bekerja tapi jarak mu dan diriku sangatlah berbeda,
kamu hanya di dalam kantor
Sekolah itu masih terlintas dalam benakku,
di sekolah itu aku berhasil sekarang,
sekolah itulah yang membuatku kuat dan berani untuk mengambil tantangan,
dengan sekolah itu aku bisa tertawa dan menahan tangis tatkala sedih.
Sekolah ku kini telah berubah dalam bentuk fisik,
tapi bocah yang berlari-lari sama dengan masaku dulu,
aku rindu dengan masa itu yang penuh dengan kegembiraan,
Untuk pacar ku tersayang..
sepertinya malam-malam kita sudah tidak bisa membuat alam cemburu,
sibuah hati menghentikan langkah kita untuk bermesraan,
kapan kita akan berbulan madu seperti dulu,
semoga saja hari itu akan ada untuk kita nanti.
Untuk pacar ku tersayang..
berteduh dibawah pondok dipesisir pantai sudah terlupakan oleh kita,
dulunya disanalah tempat kita selalu bertolak
Hati jangan pernah di lukai,
jika terluka sangat susah untuk di obati,
penyakit hati sering melandai setiap insani,
hanya dengan sepotong kata hati menjadi duri.
Dulu hati ini terpaut cinta dengan mu begitu indah dan mesra,
kini hati ku merasa bosan dan sakit dengan ulah mu yang tidak berubah,
hati ku merasa sepertinya kita sudah tidak serasi dalam dunia ini,
aku masih mencari dan
Semua makhluk membutuhkan mu tatkala gersang melanda,
tapi tidak di setiap hari dan waktu kamu akan datang,
ketika hari ulang tahun mu, makhluk tercengang dan binasa,
engkau buat dunia banjir tak terkendalikan bahkan nyawa makhluk pun menjadi tumbal.
Tanah dan tumbuhan merindukanmu,
bukan berarti mereka ingin malapetaka?
jika engkau datang tanpa henti,
maka semua makhluk akan
Indonesia negara yang memiliki beragam warna,
watak indonesia sejak dahulu kala siap menunduk,
namun tidak untuk sujud dan meminta-minta.
Indonesia..
kaya raya tapi miskin dari distribusi merata,
rakyat tidak menderita karna harta, tapi
ulah mereka yang ingin menguasai seluruh sumberdaya alam.
Indonesia..
adalah kita rakyat jelata bukan mereka yang sedang duduk manis disana,
Linngkungan adalah kita yang selalu bergerak melaju untuk hidup,
beragam cara dan tingkah laku menjadi penghalang utama,
bermacam watak dan sifat akan menjadi pelajaran dan ibrah,
semua kejadian di sekitar kita akan mengajarkan kita untuk terus berjuang.
Lingkungan memotivasi kita kearah kebaikan bahkan sebaliknya,
jika kita bisa mengatasi mimpi-mimpi yang suram,
maka hidup akan indah
Jika melihat ke atas jangan terlalu lama termenung,
ketinggian akan membuat kita angkuh tapi merasa gugup,
sadarlah melihat langit yang cerah dan terhiasi dengan indah serta menawan,
meskipun sangat memukau mata namun memiliki makna dan tanda yang tersirat.
Menunduklah ketanah menstabilkan diri bahwa sejengkal saja kita akan menempatinya,
sangat indah jika kita menyelam kelautan dasar,
Untuk sahabat sejatiku..
bagaimana kabarmu disana,
aku rindu dengan perkumpulan kita,
dimana tawa dan canda yang mendidik kita untuk dewasa.
Sahabat sejatiku..
kapan hari-hari yang berlalu akan kita ukir kembali,
sepertinya kita sudah pikun sampai kenangan indah hilang begitu saja.
Sahabat sejati..
akan selalu terukir namamu di dalam hatiku,
sahabat sejati..
akan datang sebagai
Kamis cerah
diselimuti gundah yang masih samar menyambut nikah,
23 adalah tanggal
indah di iringin tahun 2011 yang sangat megah,
Di ujung sudut
musholla aku beku bermandikan keringat dingin,
Was-was apakah akan
berulangkali jawaban akadku nanti.
Ceremonial pun
dimulai semakin kencang pula detak jantungku ini,
Entah apa yang akan
terjadi sewaktu perjanjian suci harus ku sahuti,
Kepada
Doa - kerja keras harus seiring dan sepadan,
penghasilan akan Tuhan berikan sesuai dengan keringat badan,
jangan mengeluh dengan nikmat rizki yang datang agak lamban,
mungkin saja doa dan usaha masih kurang.
Kesenangan yang menjadi idaman direstui oleh google adsense,
terkadang pernikahan dengan adsense tidak berjalan lama,
karna ulah jahil manusia akhirnya kecewa di persimpangan jalan,
Pendidikan mengunyah ilmu sebagai tambahan akal meraih kebaikan,
pendidikan baik dan tidak terletak pada pengajar dan pengguna,
mendengar perlu namun membaca dan menganalisa lebih diprioritas.
Pendidikan kita jauh maju dalam sistem penerapan,
tapi sayang sumber daya manusia masih alergi bahkan malas untuk menjalankan,
bukan kata tidak bisa atau kebijakan yang harus di kritik,
lakukan
Anak..adalah
harta yang tidak ternilai harganya,
Anak..permata
hati tatkala dunia terasa bak sampah,
Anak..penyembuh
luka-lara sewaktu dunia ini terasa hampa,
Anak..penyejuk
hati dan tingkah laku memperbaiki segala kesalahan.
Ananda..
ummi
dan abi sangat sayang kepadamu,
Jangan
kecewakan kami tatkala kamu dewasa,
Ananda..
kakek
dan nenek sangat perhatian dan mencintaimu,
Tiada
Puisi tentang cinta,,
menjadi trendi bagi generasi muda,
tapi apakah mereka mengerti tentang cinta?
Cinta..
Membawa bahagia bukan berarti tidak ada duka,
derita dan sengsara akan selalu menyelimuti mereka,
penderita penyakit cinta bak pecandu narkoba tak kenal rumah sakit jiwa,
jika candunya telah merasuki jiwa maka memiliki adalah obatnya.
Cinta..
melahirkan sajak indah bahkan
Puisi tentang kehidupan tidak akan tergambarkan menyeluruh dalam satu pikiran,
kehidupan memiliki lingkup yang sangat luas dan sulit diungkapkan,
kehidupan merupakan tindak-tanduk yang sedang berjalan bahkan masa depan,
aktifitas hari ini adalah masa depan kehidupan yang suram atau menyenangkan.
Kehidupan..
Penuh dosa jika kita hanya berpangku tangan dengan kesesatan,
baju kedhaliman
Indahnya hidup jika kita bisa melaluinya dengan suasa dan kondisi hati yang damai,
tiada kata ragu dalam melakukan apapun seandainya kita yakin dengan kebaikan,
ragu itu datang disebabkan oleh bisikan kegagalan yang menghantui,
namun, sesungguhnya indahnya hidup dengan beribu kegagalan,
terwujud pula satu kesuksesan yang nikmatnya tiada bandingan.
Indah..
Seluas pandangan mata yang
Ibu..
Maafkan anakmu ini yang tidak mampu menjagamu,
doakan ananda agar selalu diridhai Allah,
jadikan aku sebagai teman mu yang sejati,
agar aku selalu bisa mendampingimu.
Ummi..
Kini aku telah merasakan beratnya ujian mendidik sibuah hati,
tiada kata yang bisa mengukir kesetiaanmu kepada kami anakmu,
seandainya dunia di hadiahkan untuk ummi maka itu belum cukup,
hanya Allah yang
Ayah..
Mohon maaf jika aku khilaf dengan tindakanmu yang menyakitiku,
semua yang ayah lakukan untuk mendidik anakmu ini untuk dewasa dan bijak,
terkadang Ibnu mu ini mudah menangis merasa ayah tidak menyanyanginya,
namun, ayah sangat,,sangat bahkan begitu menyanyangi dan mencintai anak mu ini.
Abi..
Sesak dada ini begitu melihat abi berjalan entah kemana,
aku ingin memanggilmu, apa
Aku takut dengan tindak tanduk selama bernafas didunia,
hatiku terkadang merajut kesesatan dengki, iri serta congkak,
pikirin ini selalu merekayasa dosa untuk dilakukan bahkan merencanakan kedhaliman,
mata ini memandang nikmat yang sangat dilarang sedangkan hidayah sering terpejam,
Rabbi,,aku takut akan pemberian MU yang salah kutempatkan.
Penciumanku sangat gemar dengan lingkungan
Cinta..
melanda setiap generasi tanpa batas usia,
karunia indah tanpa pemaksa dan perantara,
ia datang dengan salam tatapan dan kata,
jika pergi akan menjelma luka yang mewarnai dunia ini adalah derita.
Cinta..
Anugerah ILAHI kepada adam dan hawa disyurga,
kejadian tersebut merambah setiap makhluk yang ada didunia,
tidak ada yang bisa ingkar dari asmara,
karna unsur utama hidup
Indahnya alam semesta diiringi dengan anugerah Allah terhadap pandangan kita,
jika buta maka keindahan itu hanyalah cerita dongeng belaka,
tapi hati menjadi sumber cahaya pandangan yang tiada disangka-sangka,
mata tertipu daya namun hati menjadi raja bagi jiwa dan raga.
Indahnya alam ini tidak luput dari hiasan Sang KHALIQ yang menghiasinya dengan beragam kehidupan,
pandangan indah
Ya Rasulullah..
Kami rindu akan yang termaktub dalam hadith namun tidak pernah kita bersua,
seandainya pertemuan ummatmu ini sedetik saja terasa tiada harga dunia,
banyak cerita tapi fakta belum pernah menjelma kepada kami yang telah baginda tinggalkan,
Sungguh sangat bahagia mereka yang terdahulu bisa selalu bertemu ramah dengan yang mulia,
akan tetapi kami tidak akan pernah berputus asa
Untukmu anakku,,
jadilah diri yang berarti untuk agama dan bangsa,
jadilah diri yang istiqmah menegakkan perintahNYA, Rasul dan Ulama,
jauhilah akan kemaksiatan serta kedhaliman yang merangkul kesesatan.
Muhammad, Nabi dan Rasul akhir zaman adalah gelar awal namamu,
jadilah pribadi yang berakhlak mulia rahmat bagi segenap alam,
Azzamy bermakna kebulatan tekad yang istiqamah pada
