BY: M. Tasar KarimuddinJari yang mungil menampar mukakuBukan marah tapi semakin sayangKutatap wajahnya seolah kembarankuIa tersenyum tampa menantangAnakku, parasmu pelita dirumah iniSudah lama impian ini berkelanajauh disana sebelum duniamu disinikini kutak ingin lagi mengembara anakku, kenapa menangis?Kalau rindu panggil saja ibu dan ayahTapi jangan menangis??Ayah tau kamu ingin bermainan
By: M. Tasar KarimuddinKata indah menaklukkan duniaAkrab dan bersahabat Sebaliknya ia adalah mangsaHati- hatilah sobatMaaf sangat mudah dalam lafazNamun sulit pula bagi hatiIa memakaikan kita setelan jasTampak elok nan berseri Maaf perkataan yang bijakTerimalah dan rangkulMaaf lahir jangan ditolakBathinpun berkata betulMaafkan hambaMu sambil bersujudSaling memaafkan mesti terwujudSanjay place,
BY: M. Tasar KarimuddinGundah ditengah malamGelisah terasa di pagi hariSemuanya hampa dan kelam Gundah dan gelisah menyelimutiGundah pergilah dari benakkuGelisah jangan mendekatKuingin hidup ala nalurikuWalau menurutmu melaratSanjay Place, Agra- IndiaTuesday, October 02, 20071: 45 AM
By: M. Tasar KarimuddinMasih bisa kuhirup udara pagiKeringat jua masih setia dengan langkahkuAkankah lusa menanti diri?Hanya diriMu yang bisa menentukan ituZikir dan do�aku bukan untuk menolak nerakaBukan pula inginkan syurga yang indahDitemani bidadari yang konon tiada diduniaHanya bertemu denganMu itulah yang megah Cinta dan kasihMu tak pernah gersangS�lalu menghujani insan walaupun
BY: M. Tasar KarimuddinJagad raya bertasbih puji dan pujaAlam tersenyum ria tampa berkataRenungi saja nada alunannyaDimana rahasia tersirat nyataPenggemarmu menyambut dengan lapang dadaTiada bimbang resah bahkan deritaSuci nan damai dalam pelukannyaLayaknya bulan terangi dunia Masih terasa mata yang basahSa�at kita berjumpa dan berpisahTercatat kisah penuh sejarahTemui diri yang tak terarahYa
BY: M. Tasar Karimuddin
Tiada permata menghiasi dirinya
Bukan pula emas yang tampak memukau
Hanya batu alam lapisi dirinya
Tersusun indah, cantik nan berkilau Kertas � kertas terlihat rapatJahitan berwarna jelas bergantunganKata mereka duniaku padatMereka alpa akan sejuta kenangan..Istanaku bukan jahannamMelainkan ayunan yang membawaku terpejam
BY: M. Tasar KarimuddinJasmani kita mulai mengeluhBeragam virus berkembang didalamSandal dan sepatu alas melangkahHanya seinci menuju kedalamPendengaran kita mulai samarMatapun mulai berkunangOlesan serbuk sebagai penyamarMasih tampak jelas bila dipandang Pengunyah izin satu persatuMulai memutih tampa kusadariJangan bertanya ada apa dengankuTerbitnya mentari mengetuk hatiBaca dan teliti undangan
BY: M. Tasar KarimuddinSenyap suaramu menghilang entah kemanaSapaan simungil membangunkan akuTatkala beranjak kuterlena dan tergodaKu tau kau selalu setia padakuIya, aku ingat saat kau peluk dilorong yang sepiNamun, Tuhan tidak mengharamkanKita selalu berdua, bernyanyi tampa hentitapi, mereka tuli dengan lagu yang kita bawakan kelap- kelipmu membuatku riangaku tau apa yang kau mau?Ya,menjauhkan
BY: M. Tasar KarimuddinGubuk tua kecil dipinggiran kotaMenyimpan kenangan sejutaCerita malam warnai duniaDetik kemenit entah kemanaSeteguk chai nikmat terasaSecangkir jus luar biasaTamat sudah ukiran kataMengangkat langkah diiringi tawa Sanjay talkiesTempat singgah sementaraSanjay talkiesMencatat sejarah masa kemasaSanjay talkies Selalu tersenyum menyambut kitaSanjay talkiesTerima kasih atas
BY: M. Tasar KarimuddinMengapa kau diam?Aku bertanya hal itu padamuMana jawabanmu?Kenapa kau bisu?Jelas bibir merahmu indah dan merekahBicaralah satu kata saja,Aku rindu pada seraknya suaramu Kenapa harus bisu?Bila masih bisa berkataMengapa harus menangis?Jika bahagia ada disanaSanjay place, agra- IndiaFriday, September 21, 20079:54
BY: M. Tasar KarimuddinTerlentang bebas usang warnanyaTaman syurgawi akrab dengannyaRebahkan badan mencoba setiaBila menjauh kita ternodaTerukir kata saat menerimanyaPesan terakhir dan yang pertamaPutih dan hitam coretan jiwaCarilah makna agar sempurna Sajadah tuaMenerima cerita tak kenal masaTua dan muda terbuka baginyaBerkerut parasnya sangat rentaDipandang lama lapangkan dadaSajadah
BY: M. Tasar KarimuddinDunia berkerut dahi memandangnyaSeakan tiada arti hidup untuk dirinyaSemua simpang terasa sunyi Gerah dan keji warnai hatiTiada cahaya yang terlihatIndahnya pagi baginya penatLidah terasa asam dan kelatKata tabib harus beristirahat LelahMengajak kita malas dan bimbangLelahMembawa mimpi buruk tak jelas arahLelahLayani saja bak perahu mengambangSanjay place, agra �
By: M. Tasar KarimuddinKhilafSetiap insan terikat dalam langkahSadar dan tidak tetap dijajahHanya seuntai kata AhTapi tetap saja betahKhilafKata, tingkah, tua dan mudaBerulang kali berjumpaMenyapa lalu menghormatinyaApa tidak bosan?? KhilafMaaf sekedar pemanis bibirTak terlihat terukirTerus bergulir dan mampirTampa berpikirKhilafjadikan butir � butir indahKhilafistiqamah jangan berpindahkhilaf
By: M. Tasar KarimuddinAbahSambutlah jariku yang mungil iniAku ingin melangkah sepertimuBantu aku untuk majuAbahAku ingin membelai wajahmu yang berporiMenutup nafasmu dalam tidurkuKini aku merasa kaku AbahAku rindu dengan secangkir kopiDitemani angin ombak nan syahduMasih ingatkah hari ituAbahTidurku nyenyak tapi tak damaiBerlalu tidurku dengan memandangmuWajah yang kerut dan membisuSanjay place,
BY: M. Tasar KarimuddinSeteguk..Memuaskan diri dari segala hawaBeragam pula yang menemaninyaDari warna jelas berbedaTapi kepuasan terletak padanyaSeteguk..Dimana bisa menjadi malapetakaManusia sangat membutuhkannya Walau tawar tiada rasaTetap saja menjadi idolaSeteguk..Diawali bismillah diakhiri pula AlhamdulillahSeteguk..Penuh baraqah bahkan terselebung sebuah hikmahSeteguk..Air putih temani
BY: M. Tasar KarimuddinIndah dunia tipuan belakaCantiknya sebatas usiaSadarlah diri arungi masaBerpegang teguh pada tombaknyaMahligai megah bak rumah sang rajaPenguasa harta tiada yang nyataBertempat diri ditanah pulaPerhiasan dunia lepas tak terjaga HidayahMuTenggelamkan dunia hinaTak perlu meraba walaupun butaTampak cahaya tampa lenteraLangkahkan diri menuju bahgiaSanjay place, agra-
BY: M. Tasar KarimuddinSenyumnya..Menerangi kegelapan yang pekatTiada dosa terpancar darinyaPutih tak terkata bagaikan cahayaSenyumnya..Penuh arti yang tersembunyiManusia masih tak mengertiPadahal ia selalu mendampingi Senyumnya�Membuatku lupa pada bidadari,Yang katanya tercantik diduniaApakah dia yang mereka kisahkan?Senyumnya...Tidak seperti wanita penuh arti dan maknaTapi melukiskan ketenangan
BY: M. Tasar KarimuddinYa Allah...Masih adakah ruang ituAtau gua yang gelap hampaKejam dunia namun bukan diriMUMereka buta akan kata-kataMUYa Allah...Cobaan datang menimpa hambaMUUjian berat bagi negerikuJangan mengeluh kepadaNyaTeliti diri letak neraka Ya Allah...Bukan mengeluh akan azabMuHanya takut akan kelupaanMuMalapetaka datang Kau sayangAllahu Rabbi ampuni kamiYa Allah...Syukur kami atas
BY: M. Tasar KarimuddinAku rindu akan ketenanganTertidur lelap dengan senyumanBangkit pula dengan kedamaianLaksana bayi baru dilahirkanAku rindu pada kesucian malamWalau gelap penuh keromantisanTapi kini langka kudapatkanDatanglah wahai impian!! Aku rindu akan uluran tanganMengajak merangkak dan berjalanMengenal Tuhan lama didendangkanTerpejam mata tak tersadarkanAku rindu masa � masa ituTiada
BY: M. Tasar KarimuddinTerdengar samparan anginMembelai tubuh dengan kelembutanNtar dimana aku telah beradaDiantara nyata namun tak samaTerperanjat diri dengan bisikanSeolah mengajakku berceritaDuka, dosa dan deritaMemang aku tak berdaya?? Kusiram diri ingin kesegaranBiar mata jelas memandangKa'bah arahku tampa bimbangMencari hidayah yang telah hilangTangisan malam bukan buatanHati merindih
BY: M. Tasar Karimuddin0/s1600-h/Copy+(2)+of+DSC00059.JPG">Waktu terus melalui insanHanya gema itu yang membangunkan kitaDetik saja berjalan mulus dan halusNamun sadar masih juga terabaikanHabis sudah sejarah terkupasMelalui kata bahkan insyaratDamai dan perang menemani kitaTapi berlalu dengan seuntai kataBersama.. Tiada terasa kita t�lah mengarungi samuderaDaratan yang luaspun telah
By: M. Tasar KarimuddinSekelilingku nampak nyataDalil samar tak terkataNak kuraih kapan sajaHati berkata belum masanyaPohon- pohon tersenyum riaMelambai � lambai tak kenal masaTertekun aku dibawah lindungannyaMenyejukkan badan dari panas dunia Terbenam diri dimasa lampauSedangkan esok resahkan jiwaLupakan saja yang masih samarBergembira dengan apa adanyaHari ini adalah milikku..Dimana semua bukan
BY: M. Tasar KarimuddinUmmiWajahmu seolah mengajakku ntuk kembaliBersama disatu tempat yang di temani angin lautPenghangat badan terhidang pada waktunyaRinduku kembali akan masa � masa itu..Ummi Bathinku terasa sejuk bila kau menangisTerbangun dari impian menyebut namamuResah nan gelisah menghiasi malam � malamkuMencium sajadah itulah tugaskuUmmiDisetiap langkahku kau hadirTampa ajakan kau
BY : M. Tasar KarimuddinBak lamaran yang tak samaUsaha meraih dua duniaTetesan mengalir bukan sengajaTakjub memuji sujud padaNyaPekikan hati perih tak bergemaMenelusuri jalan putih ntah kemana Ruang indah belum tampak di duniaTangis senyum iringi bahagiaDo�aAwali nafas bahkan langkahAlam semesta juga memintaMustahil lari dariNyaDo�a Mengiring timur dan baratTiada yang tau ia ataukah
BY : M. Tasar KarimuddinAdakah..Wajah � wajah itu cerahBegitu banyak beban diparasnyaDimana kata � kata itu tak tertulisBerjalan saja entah kemanaTak tau dimana harus berhenti Adakah..Amarah yang menyelimutiTersenyum tampak pedih dan anyirTiada sombong dipundakDibawah sederhana terlalu hinaMulia tiada yang tauAdakah..Tangis berbekas dibumiHujanlah yang jelas membasahiAdakah..Istana indah ntuk
BY: M. Tasar KarimuddinSijago berteriak membelah kesunyian alamEmbun pun kering dengan sinarannyaDi timur tampak cahaya yang indah merekah Entah apa yang disinari Padahal disini masih rindu pada kegelapanAturan alam untuk melaju pada masa edarannyaBila lengah maka salah kitaPadahal tanda �tanda selalu datang pada masanyaBahkan terlalu seringPernahkah yang berjalan sempurna memikikannyaBosan jika
BY: M. Tasar KarimuddinRasanya dunia masih terangLampu- lampu berkelip menghiasi kotaTiada tanda- tanda kegelapanSemuanya masih seperti semulaBerkeliaran tampa berlenteraSuara bising masih jelas menghibur duniaRembulan masih tampak gagah, bahkanbintang- bintang masih tersenyum lantas kenapa harus meraba padahal, seluruh indera masih layakButa?, dari mana datangnyaBelum ada kaca terhias
BY: M. Tasar KarimuddinTerpaku akan alunan syahduTiada indah malam tampa panggilan ituBukanlah irama atau nyanyianNamun, kata � kata yang menyejukkan asaHening, riuh masih jelas membisiki diriSesak rasa jiwa..Dimana nafsi � nafsi menindas diriKata- kata itu..Menarik nafsu menantang segala Sejuk dikala pagi tiada sesejuk kalimat ituBisa menumpas segala duniawiPanggilan hati..Untuk selalu dekat dan
BY : M. Tasar KarimuddinKita tuli dengan tangisan mereka disanaMembangunkan mereka dari tidur lelapnyaMenghina itulah yang kita bisaMengangkat tangan tabik kepadanyaNamun, benci tersimpan dihatiPahlawan hanya di buku- buku tua.. Dulunya�Mereka pahlawan untuk Negeri dan kitaSekarang..Kitalah pahlawan mengharumkan IndonesiaBerkomat kamit para penghina bangsaKita pun larut dalam cerita fiktif
BY: M. Tasar KarimuddinAku tidak pernah meminta untuk dirayakanCukup dikenang dan ukir dihatimuHari itu memang sejarah paling indahTiada lagi warna merah bercucuranDamai..dan sejahtera..Tanamkan hari ini pada setiap generasiBukan penyembahan, perbudakan apalagi tangisanNamun, bukti pengorbanan dan perjuangan leluhur Mereka berkata ini demi anak cucu kita Tapi,, aku terhina, menyendiri, menangis
BY: M. Tasar KarimuddinSanjay Place- Agra09: 38 Am.KamuCinta, darah bahkan nyawakuKu tak ingin meninggalkanmuwalaupun, dirimu tak indah atau tidak sempurnaBangga diriku lahir dipangkuanmu. Dia Sekedar tempat berteduh sementara Bangga, namun tidak setara dengan kamu Biarkan mereka berkata apa adanya Tentang indah dan suramnya dirimukamu dan diaTetap terbawa dalam impian malamkuNamun sayang,
sunday, june 24, 2007Agra- sanjay Place2:00Gagah dan tampan impian AdamMenarik nan cantik sang HawaBerdiri tegar seolah menantangLalu kalah tatkala bersuaTiada kata seindah remajaTua pula akhir ceritaBangga saja dimasa beliaTongkat juga lalui derita Cantik dan tampan sudah lazimlangka sudah Iman nan taqwa Cermin sekedar gambar pantulanJangan terpedaya dan terlenaAmbillah tamsil kehancurannyaRetak
BY: M. Tasar KarimuddinSaturday, June 23, 200700: 15Agra- Sanjay place. Mengapa mereka masih disanaMenanti rizki dari anginBumi beku dan panas terasaTapi tak pernah bosanMengapa kita melirik sajaApa mata hati telah tiada, atau Cinta dengan tangan mereka, yangSelalu datang mengusik kita Mengapa beribu tangan berjalan dikotaSudah cukup debu menyiram kitaTapi, mengapa orang tua kita membisuPadahal
BY: M. Tasar KarimuddinAgra: juni 22- 20074: 25Kabari kita bila kau disanaDunia sempit tuk berdustaJangan lupa bagi ceritaBiar pagi slalu ceriaKabari kita bila kau menangis, bukanGembira saja yang datangBerbagi hidup puaskan jiwa, janganLupa kita masih tetap setia
BY: M. Tasar KarimuddinTuesday; June 19, 2007Agra- India01:28Dunia..Nampak cantik sekilas mataNamun ia sangatlah tuaInsan tak sadar berjalan diatasnyaBerlalu lalang seolah ia miliknyaDunia..Tertawa akan kebodohan kitaMenangis mengingatkan kitaBencana anggap saja dari yang ESATapi, ingatlah dunia ini sudah tua Dunia..Hina dan fana bukanlah sifatnyaDarah mengalir basahi iaSeribu mayat terbuka
BY: M. Tasar KarimuddinJauh..Terdampar di persimpangan kilometerJauh..Terseret dengan bisikan dunia fanaJauh..Terlena dalam gubuk tampa atapnyaJauh..Dari Sang Penguasa abadi manusia Jauh..Berjalan laksana dalam lamunanJauh...Tak sadar bahwa itulah impianJauh..Meraba tiba juga dipojokanJauh..dariNYA menuju kegelapanJauh..Duniaku ini bertemankan debu jalananJauh..Selimutku kini dari malam yang
BY: M. Tasar KarimuddinNew Delhi, Okhla.27-01-2007. 05:45.Tak mengenal ras dan bahasaJangan pandang ia dari warnaPapa dan kaya bukan bencanaSusah dan senang lalui cerita Terdiam kita dalam kesunyianMerenung ia tak kunjung datangMenangisi kenangan mati dijalanSeribu keceriaan tak terlupakanJagalah kesucian dari sang hitamLebih dan kurang jadi bimbinganMenutupi fitnah jangan berjalanJauhkan beban